The Man

The Man

Lahir di Rumah Bersalin Budi Jaya, Kp. Bojong, Depok pada tanggal 27 April 1983 dan diberi nama Panji Rastra untuk dituliskan pada akta kelahiran oleh Papa saya. Mbrojol sehari sebelum hari ulang tahun Mama yang sekaligus mengacaukan rencana selametan yang sudah disiapkan untuk ber-Happy Birthday oleh beliau. Berdasarkan hasil investigasi, saya menemukan fakta bahwa nama Panji diambil dari nama atasan Papa yang menjadi donatur untuk membantu biaya di rumah bersalin. Nama atasan tersebut sebenarnya adalah Supanji, dipotong Su-nya dan menjadi Panji. Nama Rastra secara briliant diambil oleh beliau dari semboyan Kepolisian yaitu Rastra Sewakhotama yang lazim terdapat di setiap kantor polisi. Saya cukup lama penasaran dengan hal ini, karena nama ini cukup jarang ditemukan. Sering justru jadi salah ejaan menjadi Sastra, Sastro atau Rasta. Yang terakhir tentu saja konyol, karena banyak yang menyangka orang tua saya sebagai fans Bob Marley. Akibat kesalahan prosedur penulisan akta kelahiran di kelurahan, maka nama yang tercantum di akta hingga saat ini adalah hanya Panji Rastra. Padahal masih ada satu nama lagi yang disematkan kepada saya, yaitu Manurung. Nama yang sekaligus Marga yang menjelaskan asal-usul saya dari pihak Papa. Dengan demikian nama lengkap yang kemudian tertulis di ijazah sarjana saya bertuliskan “Panji Rastra Manurung”. Suatu kombinasi yang jarang saya gunakan sebenarnya…hehehe.

Memiliki darah campur-campur yang membuat saya kemudian lebih suka mengaku sebagai orang “Indonesia Saja” seperti judul lagu Dewa 19. Dari pihak Papa, murni mengalir darah Batak Toba, walaupun itu hanya sebatas Opung saja yang saya ketahui. Mana tahu kalau ternyata orang tua Opung saya ternyata adalah blasteran. Sementara dari pihak Mama mengalir darah Jawa dan Aceh. Jawa dari Mbah Kung, sementara Aceh dari pihak Mbah Uti. Maka inilah saya : Seorang anak yang terlahir dari ayah berdarah Batak dan ibu berdarah Jawa-Aceh yang besar di Betawi. Ditambah saya lahir dan besar di Jawa Barat, maka lengkaplah kekacauan tersebut. Maka dari itu, daripada susah-susah apabila ada orang yang menanyakan identitas kesukuan saya, lebih baik kalau saya jawab dengan “Indonesia Saja”. Hingga sekarang saya tidak bisa berbahasa Batak, ngerti sedikit-sedikit bahasa Jawa, dan justru “cukup” bisa berbahasa Sunda!

Menempuh pendidikan sejak TK hingga SMU di kota Depok, berturut-turut mulai dari TK-SD Mardi Yuana, SMPN 3 Depok, dan SMUN 2 Depok. Mulai mengembangkan sayap ketika berhasil mendapat satu jatah kursi UMPTN untuk kuliah di Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis (d/h Ilmu Administrasi Niaga), Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran. Hanya satu orang yang saya kenal memiliki track record  tempat pendidikan sama persis seperti ini, yaitu kakak saya. Kecuali mengesampingkan jurusan yang dia ambil tentunya.

Waktu kecil memiliki cita-cita ingin jadi tentara seperti Mbah Kung, namun terpaksa gagal karena baru di kelas 4 SD saja mata saya sudah minus. Mengalihkan sasaran kemudian ingin menjadi politikus setelah membaca cerita tentang kehidupan seorang Guntur Soekarnoputra di kelas 5 SD. Di mata saya waktu itu, istilah politikus terdengar begitu hebat, tanpa saya ketahui bahwa Pak Guntur justru tidak pernah benar-benar menjadi seorang politikus. Anggapan saya waktu itu, anak mantan presiden sudah pastilah seorang politikus!. Setelah duduk di bangku SMP, cita-cita saya mulai berubah-ubah, jadi atlet catur, atlet bulutangkis, atlet tenis meja, dan kemudian ikut kursus gitar untuk jadi gitaris. Tidak ada yang jadi pastinya, dan hanya menjadikan saya sekedar “bisa” memainkan olah raga dan alat musik tersebut pada saat ini. Mulai serius memikirkan cita-cita ketika duduk di bangku SMU, dengan pengacara sebagai pilihan karier di masa depan, hal ini tentu didukung oleh fakta bahwa Papa juga lulusan Fakultas Hukum. Namun lagi-lagi tidak bertahan lama, karena begitu kakak saya lulus UMPTN untuk Fakultas Hukum UNPAD, maka saya segera banting setir. Tidak seru rasanya kalau dalam satu keluarga tidak ada variasi dalam bidang pengetahuan. Maka akhirnya saya memilih kuliah di jurusan Administrasi Bisnis. Supaya suatu saat bisa jadi pengusaha, batin saya waktu itu.

Dan inilah saya saat ini, belum juga menjadi pengusaha, dan masih menjadi buruh di sebuah perusahaan property yang mengurusi salah satu mall di kawasan Jembatan Besi, Jakarta Barat (baca: Seasons City).Saat ini walaupun sedang mencoba belajar menulis, bukan berarti memiliki cita-cita baru sebagai penulis. Hanya sekedar mencoba memuaskan “dahaga” untuk terus dan terus belajar. Kalau suatu saat ternyata saya bisa jadi penulis beneran, maka anggap saja bahwa saya sedang beruntung…hehehe.

Depok, November 2012 

Salam,

Panji Rastra Manurung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The only freedom you truly have is in your mind

%d bloggers like this: