Perlu Tidaknya Kenaikan Harga BBM (Bag. 1) : Dalangnya Bingung Wayangnya Tambah Bingung!

Judul di atas adalah kebalikan dari pantun khas acara Opera van Java yang selalu diucapkan oleh Ki Dalang (Parto Patrio) di awal dan akhir pertunjukkan. Kalau di acara tersebut, kebingungan yang dialami para wayang (baca: para pemain dan bintang tamu) serta dalang tadi merupakan salah satu bumbu yang membuat acara jadi menarik. Namun bila yang terjadi seperti judul di atas dalam kehidupan bangsa Indonesia, maka apa yang terjadi? Itulah kira-kira yang bisa digambarkan mengenai kondisi bangsa ini sekarang. Ukuran paling nyata jelas soal rencana pemerintah menaikkan harga BBM baru-baru ini. Mulai dari bergulirnya isu kenaikan BBM, hingga menjadi aksi nyata dari pemerintah yang mengusulkan kenaikan, kemudian berakhir pada pengambilan keputusan dalam sidang paripurna DPR minggu lalu, tidak ada satupun bagian yang memberi harapan akan masa depan yang cerah bagi bangsa ini. Sejumlah perdebatan mewarnai proses perjalanan usulan perubahan APBN, tapi tidak ada satupun perdebatan yang berkelas. Tidak ada satupun perdebatan yang akademik dan cerdas dari para pihak yang mendukung atau yang menentang kenaikan harga BBM. Mulai dari anggota DPR, tokoh-tokoh parpol, pengamat politik karbitan, dan terutama dari pemerintah sendiri. Dari sekian banyak acara-acara diskusi di televisi yang membahas soal rencana kenaikan harga BBM kemarin, hanya ada 2 pendapat kelas amatiran yang muncul ke permukaan. Di satu pihak, kenaikan harga BBM dianggap perlu dilakukan karena melonjaknya harga minyak dunia yang kemudian ditelan mentah-mentah serta didukung habis-habisan oleh para politisi yang merupakan pendukung pemerintahan SBY-Boediono, hanya karena mereka adalah pendukung pemerintahan jadi apapun itu harus didukung! Di lain pihak, oleh mereka-mereka yang berada di luar pemerintahan, rencana ini harus ditentang karena dalam semangat demokrasi, perbedaan pendapat adalah suatu hal yang mulia dan harus diwujudkan. Oleh karena itu setiap rencana pemerintah harus ditentang dan dilawan, supaya terlihat bedanya! Perdebatan menjadi semakin tidak berkelas di saat-saat mendekati sidang paripurna dengan membawa-bawa isu makar serta kepentingan rakyat kecil di dalamnya. Kedua hal tersebut konyol dan luar biasa bodohnya untuk diwacanakan pada saat ini. Isu makar adalah lagu lama yang selalu dinyanyikan oleh pemerintah setiap kali ada penolakan terhadap keputusan mereka. Seakan-akan setiap orang yang tidak setuju dengan pemerintah sudah pasti punya niat untuk menggulingkan pemerintah. Sementara rakyat kecil selalu disebut dan dibawa-bawa oleh para penentang pemerintah seakan-akan mereka lah penyelamat yang akan menolong rakyat kecil. Padahal kenyataannya, tanpa ada kenaikan harga BBM pun rakyat kecil sudah hidup susah. Hidup susah karena negara yang diurus oleh kedua pihak tersebut tidak mampu memberikan satupun jalan keluar ataupun menciptakan kondisi yang bisa membuat hidup jadi sejahtera. Di tengah-tengah kekacauan ini, pemerintah dalam hal ini Presiden serta Wakil Presiden yang dipilih langsung oleh rakyat serta membawa harapan rakyat tersebut tidak mampu mengendalikan keadaan atau sesuai judul di atas, malah mereka yang bingung duluan! Lha dalah, kalau dalangnya bingung, ya wayangnya jadi tambah bingung!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s