Setia itu Mahal

Sejak tahun 2002 sewaktu masih menempuh kuliah di Jatinangor dulu, saya dan beberapa orang teman membuat semacam “arisan” di setiap gelaran Piala Dunia dan Piala Eropa. Masing-masing dari kami menjagokan satu negara dan apabila negara tersebut berhasil keluar sebagai juara maka orang yang menjagokan negara tersebut berhak mendapatkan “dana arisan” yang telah kami kumpulkan di awal. Kalau tidak salah ingat, waktu itu setiap orangnya mengumpulkan uang sebesar Rp 25,000. Tidak besar memang, karena hanya untuk sekedar meramaikan acara nonton saja. Hingga gelaran Piala Eropa 2012 sekarang ini, maka genap sudah 10 tahun kami rutin mengadakan “arisan” tadi.
Walaupun sudah lama lulus dan meninggalkan Jatinangor namun kami selalu “berkumpul” kembali setiap 2 tahun sekali. Arisan pertama pada ajang Piala Dunia 2002 ditandai dengan mengalirnya dana ke pemegang tim Brazil yang keluar sebagai juara. Arisan pertama tersebut merupakan arisan yang diikuti oleh peserta terbanyak, karena niatnya untuk meramaikan maka tim-tim underdog seperti Korsel dan Turki pun ada yang menjagokan. Hasilnya cukup mengejutkan, sebab keduanya berhasil masuk ke semifinal dan mempermalukan kami-kami yang menjagokan tim-tim “tradisional” seperti Italia, Spanyol, Inggris, Argentina atau Prancis. Yang menarik saat itu adalah tidak lolosnya Prancis ke fase knock out, padahal mereka datang dengan status sebagai Juara Dunia 1998 dan Juara Eropa 2000. Yang lebih hebat lagi adalah Korsel, mereka melaju hingga semifinal dengan mengalahkan dua tim elite Eropa yaitu Italia dan Spanyol. Nah, sementara saya yang merupakan fans sejati Manchester United sejak masih duduk di kelas 6 SD dulu sudah pasti menjagokan Inggris. Saya mulai suka dengan Inggris sejak menonton Piala Eropa 1996 dimana mereka jadi tuan rumahnya. Ditambah kegagalan dramatis mereka di Piala Dunia 1998 oleh Argentina, maka tambah “cinta” lah saya dengan tim “Tiga Singa”.
Kembali ke soal “arisan” tadi, rasanya di setiap ajang baik itu Piala Dunia atau Piala Eropa, hanya saya yang “otomatis” punya tim jagoan dan tidak perlu berebut dengan yang lain. Teman-teman saya tahu bahwa saya “setia” terhadap Inggris, dan mereka juga “tahu” bahwa Inggris bukanlah tim spesialis turnamen. Dengan kondisi tersebut, maka Inggris “otomatis” menjadi milik saya.
Korsel-Jepang 2002, Inggris tersingkir di perempat final dengan menyerah 1-2 dari Brazil. Awalnya ada harapan setelah mereka menang 3-0 atas Denmark di perdelapan final dan mengawali pertandingan melawan Brazil dengan unggul lebih dulu melalui gol Michael Owen. Tapi gol-gol dari Rivaldo dan Ronaldinho langsung mengubur harapan Inggris untuk bisa melaju ke semifinal. Sekaligus mengubur harapan saya untuk mendapat dana “arisan”.
Portugal 2004, di ajang Piala Eropa kali ini, “arisan” mengalami penurunan peserta disebabkan berkurangnya pula “pilihan”. Inggris kembali tersingkir di babak perempat final dan kali ini melalui adu penalti lawan Portugal. Ajang ini menjadi yang paling spesial karena tidak ada satupun peserta yang berhasil. Harapan pemegang tim Portugal kandas setelah Charisteas mencetak gol kemenangan bagi Yunani di partai final. Hasil ini tentu saja disambut gembira oleh para peserta yang sudah lebih dulu kalah (termasuk saya yang menjagokan Inggris tentunya, hehehe..).
Jerman 2006, setelah hasil di Piala Eropa 2004, susunan pemegang tim banyak berubah dengan saya tetap menjagokan Inggris. Hasilnya? Adu penalti masih tetap menjadi momok dan lawannya pun masih sama, yaitu Portugal. Untuk ketiga kalinya saya harus puas hanya “bernafas” sampai perempat final dan menyaksikan pemegang tim Italia tersenyum lebar mendapatkan dan arisan yang sudah meningkat iurannya menjadi sebesar Rp. 100,000/orang.
Austria/Swiss 2008, menjadi Piala Eropa yang suram karena Inggris tidak berhasil lolos kualifikasi. Maka untuk pertama kalinya saya terpaksa harus berebut untuk memilih tim. Rasanya begitu berbeda memang, karena kali ini saya memilih tim bukan berdasarkan fanatisme melainkan berdasarkan hitung-hitungan kekuatan. Pilihan saya jatuhkan kepada Belanda yang di awal turnamen langsung membuat semangat saya naik karena mereka berhasil mempermalukan Prancis. Tapi ternyata saya masih saja tetap harus puas sampai di perempat final. Penampilan gemilang di babak penyisihan grup membuat Belanda lengah dan kalah dari tim kuda hitam Rusia. Lucunya, saya juga menjagokan Rusia di ajang “arisan” lainnya yang diadakan di kantor. Walhasil, saya berharap mudah-mudahan kali ini hasilnya seperti tahun 2004 lalu, dimana tim kuda hitam yang jadi juara. Spanyol-Jerman!! Rupanya kali ini partai final dikuasai tim tradisional. Dan Spanyol yang sebelumnya justru terkenal sebagai tim spesialis kualifikasi dan keok di putaran final malah tampil sebagai juara. Beruntunglah dia yang menjagokan Spanyol karena Spanyol tidak terlalu diunggulkan di awal turnamen.
Afrika Selatan 2010, ajang Piala Dunia diadakan di benua Afrika untuk pertama kalinya. Negara bekas koloni Inggris ini menjadi tempat reuin saya dengan tim Inggris. Dengan bintang-bintang yang semakin matang, saya berharap kali ini setidaknya mereka bisa mencapai semi final. Namun yang ada justru hasil memalukan kandas di perdelapan final dengan skor mencolok 1-5 lawan sekumpulan pemain muda Jerman. Saat itu saya sempat bertekad untuk sementara waktu “berpaling” dari Inggris di ajang yang berikutnya. Selain tidak pernah memberi hasil, gemas juga melihat tim jagoan kita selalu kalah dengan penampilan tanpa mental. Tidak apa-apa kalah, asal melalui pertarungan sengit yang penuh keberanian. Itupun cukup.
Polandia-Ukraina 2012, Fabio Capello mundur dari jabatan sebagai pelatih timnas Inggris. Rio Ferdinand tidak diikut sertakan terkait kasus rasisme John Terry dengan Anton ferdinand. Paul Scholes yang comeback ke dunia sepakbola, tidak coba dibujuk untuk kembali juga ke timnas, padahal walaupun sudah berusia 38 tahun, dia tetap salah seorang gelandang terbaik yang dimiliki Inggris. Menjelang turnamen, FA menunjuk Roy Hodgson, pelatih yang masuk ukuran “biasa-biasa” saja untuk memimpin timnas Inggris di ajang Piala Eropa kali ini. Dalam rangkaian ujicoba, nama-nama besar seperti Gareth Barry, Frank Lampard, dan Gary Cahill memastikan diri tidak bisa ikut karena cedera. Mereka bergabung dengan pemain-pemain muda potensial yang telah labih dulu memastikan tidak bisa ikut seperti Kyle Walker, Jack Wilshere, dan Chris Smalling. Dengan tambahan, Wayne Rooney tidak bisa main di dua partai awal. Deretan masalah seperti itu justru membuat saya berpikir dua kali untuk “meninggalkan” Inggris pada ajang arisan kali ini. Kesetiaan, kata orang bijak, justru teruji ketika kita tetap bertahan di kala ada masalah. Atas dasar “sentilan” itulah saya memutuskan kembali menjagokan Inggris. Gairahnya berbeda memang, saya ikut merasa merinding mendengarkan koor pendukung Inggris menyanyikan God Save the Queen. Saya ikut meloncat gembira ketika Joleon Lescott menanduk bola hasil tendangan bebas sang skipper Steven Gerrard. Saya berteriak ketika Danny Wellbeck mencetak gol kemenangan ke gawang Swedia. Dan saya pergi tidur dengan senyuman lebar ketika Wayne Rooney menyundul bola ke gawang Ukraina. Akhirnya, gairah memuncak ketika Inggris bertemu dengan Italia di babak perempat final. Italia tampil cukup baik selama babak penyisihan, tapi tetap mereka masih lebih “ramah” bila dibandingkan Spanyol yang menakutkan. Karena itu, saya berharap bisa menyaksikan partai yang seru dengan Inggris yang keluar sebagai pemenang. Babak pertama diawali dengan peluang terbuka dari masing-masing tim. Tendangan De Rossi dari luar kotak penalti tidak bisa dijangkau Joe Hart tapi masih membentur tiang gawang. Aksi individu Glen Johnson hingga ke muka gawang masih bisa digagalkan oleh kesigapan Gigi Buffon. Sedikit harapan bagi saya dan tim Inggris…Tapi setelah itu, Inggris tampil dengan pertahanan total, tanpa niat untuk menyerang sama sekali. Gaya permainan yang sangat saya benci, apalagi bila itu dimainkan oleh tim besar yang memiliki pemain-pemain bertalenta. Pertandingan berlangsung hingga babak tambahan waktu 2 x 15 menit dan tetap tanpa ada gol yang tercipta. Maka terulang kembalilah episode adu penalti, dan walaupun Montolivo gagal memasukkan bola dan membuat Inggris sementara unggul, dalam hati saya tetap yakin bahwa Inggris akan kembali kalah. Kekalahan Inggris kali ini menandai 10 tahun “arisan” kami dan selama 10 tahun tim yang saya jagokan selalu mentok sampai di perempat final.
Hikmah yang saya petik dari 10 tahun perjalanan “arisan” kami adalah bahwa mengambil sikap setia itu berbuntut ongkos yang mahal. Sementara teman-teman saya yang lain sempat merasakan keuntungan, saya setia hanya menjadi penyetor dana. Selepas kekalahan Inggris kemarin, saya sempat mengatakan kepada salah seorang teman saya bahwa pada ajang Piala Dunia 2014 nanti saya tidak akan menjagokan Inggris (itupun kalau mereka lolos kualifikasi). Saya akan memilih Brazil yang juga bertindak sebagai tuan rumah. Tapi tentu saja keinginan saya ini masih harus dibuktikan. Bisa saja dalam perjalanannya, kesetiaan saya tidak akan goyah oleh niat mencari keuntungan. Siapa tahu ternyata saya memang termasuk tipe orang yang setia….:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s