images

Antara Auto dan Oto

Autobiografi, Menulis sendiri tentang diri sendiri…Auto sendiri. Diucapkan sama bunyinya dengan au dalam kata kerbau, walau, kalau. Jadi sebetulnya kita bisa mengucapkan dan menuliskan bunyi itu. Tetapi semenjak merdeka-nasionalis, kita harus merakyat. Maka harus mengucapkannya…too. Dari bisa, wajib menjadi tidak bisa.

Pada tahun 1958-an, semua orang terpelajar bisa mengucapkan dan menulis research (penelitian). Tetapi sesuai kemerdekaan, nasionalisme dan sosialisme, kita harus merakyat: Duduk dan berdiri sama rendah, sama tinggi dengan rakyat jelata. Jadi harus menulis dan mengucapkan riset. Sampai-sampai seorang Doktor yang sangat disegani oleh negara yang sangat maju, yaitu Jerman Barat, harus juga mengucapkan riset. Bahkan lembaga penelitiannya yang juga mutunya tinggi, diberi nama Lembaga Riset. Begitu seterusnya dengan hampir semua perkataan asing.

Jadi yang paling diutamakan adalah “merakyat, duduk dan berdiri sama rendah, sama tingginya dengan rakyat.” Ungkapan itu lain dari “turun ke rakyat, mendidik rakyat, mengangkat rakyat sama tingginya dengan manusia yang semua bakatnya dikembangkan sampai batas hakikat masing-masing.”

Turun sama rendah, sama tingginya dengan rakyat, berarti policy of minimum resistance dan policy of stupidisation. Sebaliknya, turun ke rakyat, mendidik-mengembangkan semua bakat sampai batas hakikat masing-masing, memang sangat sukar, sangat berat. Usaha demikian adalah policy of education, policy of development  dan policy demikian berarti melaksanakan tugas moral yang paling dasar dan penuh tantangan.

Policy of minimum resistance dan policy of stupidisation adalah mudah, adem ayen, tentrem-melempem, tetapi aman. Jangan seperti Belanda, mengembangkan kelompok kecil, sampai ke tingkat pendidik sendiri, dengan akibat… dapat keuntungan besar sampai kaya-raya, tetapi akhirnya kehilangan kedudukannya sebagai boss. Jadi, tidak aman!

Saya tidak rela, bila potensi dan kemampuan anak Indonesia tidak dikembangkan sampai batas hakikat masing-masing! Belanda sendiri mengakui tingginya bakat dan kemampuan anak-anak Indonesia.

Pada tahun 1926, saat saya lulus dari AMS-B Yogyakarta, Direktur membagikan diploma dan sambil menjabat tangan kami satu, orang Belanda totok itu berkata: “Deze Indlansche kinderen zijn pientere kinderen. Zij beheerschen het Nederlansch, Engelsch, Dutsch en Fransch, beter dan onze eigen kinderen”. (Anak-anak Inlander ini pandai sekali. Mereka menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Prancis, lebih baik daripada anak-anak kita (=Belanda. SIS) sendiri),

Tetapi, sesuai dengan policy of stupidisation and minimum resistance, tidak boleh menyebut autobiography. Harus otobiografi!

Otobiografi. Oto dalam bahasa Jawa, adalah bagian dari pakaian anak kecil: Sepotong kain yang di empat sudutnya diberi tali. Tali diikatkan pada leher dan pinggang, sehingga kainnya menutupi dada dan bagian atas perut. Fungsi oto adalah melindungi dada dari air liur yang menetes ke bawah. Jadi istilah Oto-bio-grafi tidak bisa diartikan.

*Diambil dari buku Warna-Warni Pengalaman Hidup R. Slamet Iman Santoso, Pengarang: R. Slamet Iman Santoso, Penyunting: Boen S. Oemarjati, Penerbit: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta, 1992

**Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso (1907-2004) merupakan penggagas berdirinya Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Guru Besar Universitas Indonesia, dan pencetus ide penyelenggaraan tes masuk perguruan tinggi negeri yang sekarang kita kenal dengan nama SNMPTN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s