Balita Pribumi Diuji Belanda Totok

*Diambil dari buku Warna-Warni Pengalaman Hidup R. Slamet Iman Santoso, Pengarang: R. Slamet Iman Santoso, Penyunting: Boen S. Oemarjati, Penerbit: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta, 1992

Pada zaman kolonial-feodal Belanda, ada tiga jenis sekolah Belanda. Jenis pertama adalah untuk Belanda tingkat tinggi dan anak Jawa yang bapaknya berpangkat serendah-rendahnya wedana. Jenis kedua adalah untuk the middle class. Jenis ketiga adalah untuk yang miskin. Jadi pembagian adalah sesuai dan didasarkan pada lapisan masyarakat. Dari sekolah Belanda jenis kedua, bisa langsung masuk kelas satu MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Di MULO tiga tahun terus ke AMS (tiga tahun), kemudian ke perguruan tinggi. Dari sekolah Belanda jenis pertama, boleh langsung masuk HBS (Hogere Burger School) lima tahun, kemudian ke perguruan tinggi. Di sekolah Belanda jenis pertama, mulai kelas lima diberikan pelajaran bahasa Perancis.

Dari HIS (Holandsch Indalnsche School) masuk kelas persiapan MULO selama dua tahun, baru boleh masuk kelas satu. Pada MULO ada kelas A, B, dan C. Kelas A merupakan sambungan dari sekolah Belanda jenis pertama, jadi menyambung bahasa Perancis yang sudah dimulai pada kelas lima. Antara kelas B dan C tidak ada perbedaan.

Sekolah saya adalah sekolah untuk anak-anak dari tingkat sosial rendah. Kira-kira 80% adalah anak yatim-piatu, kurang mampu atau berasal dari broken homes. Mereka dididik dalam panti asuhan “Pa van der Steur”, semuanya berbaju kelabu-bergaris-hijau tua. Datang-pulang selalu berbaris dan dikawal. Namun, sekalipun sekolah melarat, semua alat pendidikan lengkap, diatur, dan diawasi oleh dua keluarga penjaga sekolah, yaitu orang Jawa yang tinggal di pekarangan sekolah. Kalau saya datang pagi-pagi, pekarangan sudah bersih, semua kelas sudah terbuka, kamar dan papan tulis bersih. Di satu bangku duduk dua anak, dan semuanya mempunyai satu poci tinta terisi penuh, bersih.

Di kelas satu sampai dua, kalau pulang tidak membawa apa-apa. Semua keperluan dibagi-bagikan sebelum jam pelajaran. Pensil, pena, batu tulis, anak batu tulis, kertas penyerap tinta (vloeipapier). Yang membagi-bagi adalah murid sendiri, bergantian. Habis jam pelajaran semua dikumpulkan lagi oleh para murid, disimpan dalam lemari, kuncinya dipegang oleh guru kelas, seorang wanita yang sudah mulai beruban.

Dari kelas tiga sampai tujuh, mulai diberi buku berhitung, bacaan, peta bumi dan lain-lainnya. Mulai kelas lima memperoleh kamus kecil, De Kleine Koenen. Secara periodik dikontrol, apakah buku-buku masih lengkap, disampul atau tidak. Mulai kelas tiga selalu mendapat pekerjaan rumah: berhitung, membaca, membuat kalimat, belajar membuat peta bumi, Pulau Jawa, Sumatera, dan seterusnya. Pelajaran lain adalah mengenai tanaman dan hewan yang berguna untuk kehidupan. Kira-kira 50-60% dari jam pelajaran, murid selalu dipanggil di depan kelas untuk menjawab pertanyaan tentang bahan yang ditugaskan untuk dibaca di rumah. Banyak sekali berhitung di luar kepala, kali-kalian sampai 30 x 30 harus hafal. Naik kereta api dari Anyer sampai Banyuwangi, harus menyebut kota-kota besar, gunung yang dilihat, sungai yang dilewati, banyaknya penduduk kota-kota tertentu. Pendek kata, daya pemikiran, daya ingat , berbicara di depan kelas, semuanya dilatih, dikontrol. Kalau guru kurang puas, dapat menulis surat kepada ayah-ibu, atau untuk “Pa van der Steur”.

Oleh karena ilmu bumi dihafalkan, digambar, digunakan untuk menerangkan cara bepergian, maka kami mempunyai gambaran jelas tentang Tanah Air kami. Dengan mengenal Tanah Air, maka kami cinta Tanah Air tanpa melalui indoktrinasi. Kami tahu dimana kami berada, tidak bisa kesasar, merasa aman. Pada saat-saat demikian saya hanya dapat merasakan, betapa latihan-latihan itu membangun perasaan yang disebut “awal nasionalisme”. Sebab, pada waktu saya masuk MULO tahun 1920, disana sudah ada persatuan khusus anak-anak Jawa, yang tiap saat bisa memboikot suatu upacara.

Berhitung di luar kepala, disertai banyak akal (tricks) untuk bisa berhasil. Misalnya, sekarang pukul sepuluh pagi, nanti seratus jam lagi pukul berapa? Jawabannya adalah pukul seratus sepuluh diambil sembilan puluh enam, jadi pukul empat belas atau pukul dua siang. Sampai di luar kepala, kita bisa menghitung, satu hari adalah dua puluh empat jam atau 86.400 detik. Setelah mahir berbahasa Belanda di kelas lima, kita mulai dilatih mempergunakan kamus kecil Der Kleine Koenen. Murid diberi sepuluh perkataan, dan di rumah harus mencari dalam kamus, ditulis. Esok harinyadiserahkan kepada guru untuk diperiksa dan dinila, kemudian terima kembali. Oleh karena semua pekerjaan diperiksa dan dikembalikan, maka kami mengetahuui kesalahan dan bagaimana memperbaikinya.

Pada waktu bertamasya, “ekskursi” ke kantor pos di dekat alun-alun. Kami diberi pelajaran membeli perangko, mengirim dan menerima post wissel. Di stasiun kereta api NIS kita diberi tahu cara membeli karcis, melihat tabel datang-bernagkatnya kerata api. Menurut penilaian saya sekarang (1985, SIS), kami dipersiapkan untuk bisa bertahan hidup dengan bekerja setara tingkatan “juru tulis perkantoran” (scrijver en klerk).

Di samping pembinaan pengetahuan dan pemikiran, kami terus menerus harus sopan santun, tertib-bersih. Baju, kancing diperiksa. Kalau kurang rapi, dapat surat untuk wali atau bapak-ibu. Kalau bicara harus jelas mengucapkan tiap perkataan satu per satu. Dalam rapor ada nilai untuk berbicara, menulis, kebersihan dan sopan santun. Berbicara, menulis harus jelas, teliti, rapi, supaya orang lain mudah mengerti. Jadi, kami dididik demikian tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang lain. Langkah pertama dalam komunikasi sosial ditanamkan pada usia muda, dan diteruskan sepanjang rangkaian pendidikan.

Oleh karena sekolah itu merupakan sekolah yang menerima anak-anak lapisan sosial yang rendah, maka umur anak berbeda-beda sekali. Demikian pula tentang kemampuannya. Dua faktor tadi menyebabkan banyak anak yang tidak sampai kelas tujuh. Sepertiga bagian keluar karena sudah lebih dari delapan belas tahun umurnya, lainnya memang tidak mampu mendapat milai minimal lima. Dari 40 kawan murid di kelas satu, akhirnya yang mencapai kelas tujuh hanya tujuh belas anak. Tetapi ketujuh belas anak tadi selalu lulus ujian untuk sekolah teknik, ujian klein-ambtenaars examen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s