MULO

MULO adalah singkatan untuk Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, yaitu pendidikan dasar yang lebih diperluas.

Pada hari pertama kami masuk, didaftar dan diberi buku daftar buku dan alat tulis, yang harus dibeli di toko buku “Marsch.” Yang harus dibeli antara lain kamus bahasa Belanda De Groote Koenen, kamus bahasa Inggris, peta seluruh bumi Bos Atlas, buku matematika, dan selanjutnya. Pada hari kedua, semua buku diperiksaoleh para guru dan ditandatangani oleh para murid sendiri. Dengan demikian guru mempunyai kepastian bahwa tiap murid mempunyai buku pelajaran. Berdasarkan kepastian itu, maka guru tidak lagi “mengajar”. Tiap kali kami hanya ditugaskan membaca buku pelajaran sendiri. Kemudian pada jam pelajaran, kami dipanggil di depan kelas, dan harus menjawab pertanyaan atau menerangkan hasil bacaan. Dalam satu jam pelajaran, bisa dipangggil tiga-empat muris di depan kelas. Menjelang akhir jam pelajaran, baru guru membetulkan kesalahan, dan pembetulan itu dicatat dalam buku pelajaran. Di samping pembetulan, kadang-kadang ditambah catatan tentang hal-hal yang tidak ada di dalam buku.

Pada waktu mulai pelajaran pertama, guru menerangkan tata tertib yang berlaku untuk sekolahan tadi. Antara lain belajar sendiri dari buku yang kita miliki, kemudian harus menjawab pertanyaan di depan kelas (overhooren), semua ulangan dan ujian tiba-tiba, tanpa diberitahukan, dan bulan terakhir dari tahun pelajaran digunakan untuk ujian naik kelas. Pakaian harus rapi bersih, kalau sakit atau ada keperluan lain harus ada surat keterangan dari orang tua. Barangsiapa kedapatan tiga kali membolos, akan dikeluarkan dari sekolah. Tata tertib itu dipertatahankan, dikontrol, dan semua sanksi dilaksanakan. Beberapa kali terjadi, orangtua dikirimi surat tentang tingkah laku anaknya: atau jika anak mbolos, diambil dari rumahnya oleh petugas dari bagian administrasi sekolahan. Sebaliknya terjadi pula, anak yang sakit dijemput dan diusahakan dapat tempat di rumahsakit militer. Sepanjang ingatan saya, murid yang mbolos tiga kali berturut-turut dikeluarkan dari sekolah.

Pada permulan kelas satu, memang banyak anak yang tidak belajar sendiri, dan dapat angka merah cukup banyak. Tetapi kira-kira dalam jangka waktu satu-dua bulan, sudah tidak ada lagi yang males-malesan. Sering pula sekelompok murid belajar bersama-sama. Demikian pula, pada permulaan dapat angka merah  waktu ulangan tiba-tiba. Peristiwa itupun cukup cepat berubah, oleh karena setelah dua-tiga kali dapat angka merah,mulailah kami mengulangi sendiri isi pelajaran. Kemungkinan menyontek praktis dapat diberantas, oleh karena dipanggil di depan kelas, ulangan tiba-tiba, dan selama ujian sang Guru terus keliling di kelas.

Semua ulangan dan pekerjaan rumah diperiksa, diperbaiki dan dikembalikan. Kami mengetahui kesalahan dan bagaimana memperbaikinya. Ada pula kalanya, setalah kira-kira dua puluh menit, seluruh kelas diuji tiba-tiba, hasil pekerjaan dikumpulkan, kemudian dibagi-bagi lagi, demikian sehingga seorang murid A mendapat pekerjaan murid S, dan seterusnya. Setelah dibagi-bagi, sang Guru mengumumkan jawabannya, dan kami harus mengkoreksi pekerjaan kawan kami sendiri. Kemudian diserahkan kembali kepada guru, dan baru dibawa pulang oleh sang Guru untuk diperiksa sendiri. Mau tidak mau, kami tidak bisa curang, kami terpaksa jujur. Kalau kedapatan curang, maka dapat angka nol, dan melayanglah surat untuk orangtuanya!

Dalam rangka bahasa, selalu dituntut bahasa yang singkat, jelas, tepat, dan hanya mempunyai satu arti. Tidak boleh kelebihan satu perkataan pun yang tidak perlu. (Sekarang saya tahu nama kalimat semikian, yaitu, categorical, univocal sentences, dan economy of words). Dengan membuat kalimat demikian, pemikiran mejadi jelas dan tepat. Syarat tadi berlaku untuk semua jenis mata pelajaran, jadi tidak dibatasi hanya dalam satu pelajaran bahasa saja. Saban minggu harus membuat karangan. Judulnya ditetapkan oleh sang Guru. Penilaian karangan tersebut didasarkan beberapa hal: Nilai pokok adalah untuk kemampuan mengarang. Kemudian, tulisan harus bagus, mudah dibaca. Kalau bagus tulisannya, itu berarti mengetahui kebersihan dan keindahan, rapi-indah-teliti berarti ingat orang lain. Semua tanda baca dan tanda menulis harus lengkap. Jika kebanyakan kata, dicoret dan diperbaiki. Semua hal yang menjadi satu, harus dipersatukan dan tidak terpisah atau tercerai berai (wat hoort bij wat). Kalau tulisan jelek, tanda baca tidak rapi, kebanyakan kata, atau bagian dari kalimat bercerai berai, maka angka pokok dikurangi. Kalau terlalu banyak jumlah pengurangan, maka harus ditulis kembali lima kali. Karangan terbaik harus dibacakan di depan kelas, dengan irama, dan tiap perkataan diucapkan jelas lengkap.

Berkali-kali, para guru mengingatkan : “Menulis bagus, mengucapkan perkataan lengkap, berbicara berdasarkan irama, adalah sifat menghormati orang lain, mengurangi salah paham, dan memuktikan sopan santun. Bicara tidak jelas tanpa irama, membuktikan kebodohan dan tidak mempunyai sopan santun” (Dom en ongemaniered).

Pengetahuan matematika ditanamkan secara sistematis, disertai pengawasan ketat terus menerus. Semua dalil harus dirumuskan dalam kata-kata, tidak cukup ditulis sebagai rumus saja. Banyak sekali diadakan ulangan tiba-tiba. Saya masih ingat, jam pelajaran sejarah, yang masuk Meneer Baart, ulangan aljabar. Dalam rangka ilmu tumbuhan dan hewan, yang diutamakan adalah kegunaannya, dan hanya sekedar saja tentang biologinya. Banyak tanaman yang harus dikumpulkan, disebut dengan nama sehari-harinya, kemudian disebut dengan nama resminya (bahasa Latin dan tulisannya). Bentuk tanaman dipelajari cukup mendalam. Kami juga mendapat buku, untuk melakukan “determinasi”, yaitu menentukan nama tanaman. Di samping itu, pekarangan MULO cukup luas, dan sebagian dipergunakan untuk menanam tumbuh-tumbuhan, yang dilakukan oleh kami sebagai murid. Ada yang membawa biji kopi, biji jambu, dan lain-lainnya. Saya membawa biji selada, dan ditertawakan oleh kawan-kawan saya. Sang Guru diam saja. Kira-kira empat bulan kemudian, saya menertawakan kawan-kawan: Saya sudah panen, lain-lainnya masih harus menunggu bertahunan. Guru Cuma senyum dan geleng-geleng kepala.

Menurut perasaan saya sekarang, sebagian pengetahuan ditujukan untuk bertahan hidup sehari-harinya. Ilmu bumi diajarkan untuk mengenal daerah secara mendalam, pengetahuan tanaman dan hewan untuk makan, tata buku untuk mengelola keuangan dan rumah tangga, tata tertib kelakuan untuk hidup dalam masyarakat tanpa kesukaran.

Sebagian lain yaitu penguasaan bahasa, penguasaan matematika, untuk melatih berpikir teliti berkesinambungan tanpa kesalahan. Oleh karena sepanjang pendidikan terus menerus ada kegiatan praktis dan demonstrasi dalam lapangan botani-fisika, maka pemikiran dihubungkan dengan realitas kehidupan. Dari alam abstract-conceptual turun ke alam kehidupan sehari-harinya.

Di samping soal pendidikan-pelajaran, maka suasana kehidupan di MULO lain daripada di Europeesche Derde Lagere School. Kalau di Lagere School, kira-kira 80% dari murid adalah anak asuhan “Pa van der Steur”, semuanya dengan pakaian seragam, kelabu dengan garis hijau, maka di MULO tidak seragam, tetapi semuanya berpakaian lengkap-rapi. Ada yang berpakaian Barat, ada yang berpakaian Jawa tanpa destar, tanpa sepatu. Warnanya berbeda-beda. Kejenuhan pakaian seragam tidak ada. Pakaian seragam menjemukan, semuanya sama, seperti semut kangrang, semuanya merah, atau semuanya hitam, seperti sarang semut hitam. Kebanyakan yang berpakaian Jawa, berdasarkan pakaian yang harus dicuci sendiri, tanpa diseterika. Jadi pakaian tanpa tambahan ongkos, tapi tetap rapih bersih. Tidak ada pakaian kaos oblong dengan tulisan segala macam iklan, atau shirt yang tidak dimasukkan ke pinggang celana, seperti sekarang (1985, SIS) menjadi mode yang tanpa kerapian sedikitpun. Jadi rapi teliti berbeda dari seragam yang menjemukan. Berbeda pula dari semrawut, seenaknya saja, tanpa ada rasa harga diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s