Soal Kopaja, Metromini, Bang Foke dan SBY

Saya termasuk orang yang suka kentut di depan umum. Dan saya juga  tidak pernah sakit hati apabila ada yang kentut di depan saya. Tapi saya bisa sangat tersinggung bahkan merasa terhina apabila terkena “kentut” dari salah satu bis Kopaja atau Metromini dalam perjalanan pergi-pulang antara Depok-Jembatan Besi. “Kentut”yang satu ini selain berbau, juga mengeluarkan asap hitam pekat yang bikin sakit mata, gatal-gatal pada kulit wajah, serta bau sangit yang setia menempel pada jaket bahkan pakaian yang sudah wangi-wangi saya siapkan dari rumah. Tapi buat saya, asap serta bau “kentut” tadi masih tidak seberapa dibandingkan perasaan terhina yang saya dapatkan. Sebab, kalau asap dan bau hanya menempel di jaket serta pakaian dan bisa hilang setelah dicuci kembali. Sementara perasaan terhina tadi terus menempel di hati dan membuat dongkol.

Setiap hari sebelum berangkat kerja, saya selalu mandi terlebih dahulu. Setelahnya saya juga menggunakan deodorant dan cologne sebagai wewangian yang akan menambah kesegaran. Pakaian juga selalu dalam keadaan bersih dicuci dan diseterika. Tidak lupa tentunya sepatu mengkilat karena disemir. Setiap orang tentunya ingin tampil rapih dan bersih. Bukan hanya yang bekerja di kantoran saja. Termasuk juga mereka-mereka yang sekolah, kuliah ataupun sekedar bepergian. Tapi hal itu sangat sulit didapatkan apabila kita melintasi jalanan di Jakarta. Terkecuali bagi mereka yang telah mampu memiliki mobil sendiri tentunya. Tapi bagi mereka-mereka yang masih menggunakan kendaraan umum atau naik motor, mempertahankan kebersihan serta kerapihan yang dimiliki sebelum berangkat dari rumah adalah sesuatu yang hampir mustahil. Bagi yang naik motor, seperti yang sudah saya singgung di atas sudah jelas akan terkena asap kotor kendaraan lain terutama bis-bis kota. Ditambah pula, pakaian yang tadinya rapih dan wangi akan jadi kucel serta lepek oleh basah keringat. Bagi yang naik bis ataupun kereta, tinggal tambahkan saja penderitaannya dengan pakaian jadi lecek karena berdesak-desakan serta sepatu yang mengkilat jadi dekil karena terinjak-injak.

Itulah penghinaan yang setiap hari diterima oleh kebanyakan orang yang hilir mudik di dalam kota Jakarta. Penghinaan, karena kebersihan serta kerapihan diri yang telah diciptakan hilang oleh karena ketidak becusan pemerintah dalam hal menyediakan sarana transportasi umum serta menciptakan kondisi lalu lintas yang layak dan manusiawi.

Hampir 67 tahun bangsa ini merdeka, tetapi ibukotanya hanya memiliki satu sarana transportasi umum saja. Itu pun baru dalam 6 tahun terakhir ini, ditandai dengan kehadiran bus Transjakarta. Layanan yang satu ini pun sebenarnya masih jauh dari layak. Ini hanyalah sebuah pilihan “terbaik” diantara yang terburuk. 5 tahun masa kepemimpinan Bang Foke tidak mampu juga meningkatkan pelayanan bus Transjakarta. Padahal ia sebenarnya hanya tinggal meneruskan saja. Jumlah koridor yang bertambah tidak berarti mengurangi kepadatan antrian pada saat jam sibuk. Dengan antrian yang padat, artinya kondisi di dalam bus juga akan padat berdesak-desakan. Kondisi berdesak-desakan artinya akan memunculkan resiko kecopetan ataupun pelecehan seksual terhadap kaum wanita. Artinya, layanan ini boleh dibilang tidak manusiawi!

Sudah tidak mampu menyediakan sarana transportasi umum bagi warganya, pemerintah daerah DKI Jakarta pun rupanya tidak juga mau “bekerja sama” dengan pihak swasta yang telah lebih dulu melayani warga Jakarta dalam hal transportasi umum. Kopaja dan Metromini tadi contohnya. Kedua organisasi angkutan ini adalah sebagian dari banyak lainnya yang telah sekian lama beroperasi mengangkut penumpang di jalanan Jakarta. Pada awal beroperasinya dulu, mungkin bis-bis yang ada sekarang ini masih dalam keadaan bagus serta layak jalan. Namun seiring berjalannya waktu, bis-bis ini berubah menjadi kendaraan “rongsokan” yang dengan sisa-sisa tenaganya masih harus beroperasi demi kelangsungan hidup para awaknya.

Dibandingkan dengan bus Transjakarta, Kopaja dan Metromini memiliki keunggulan dalam hal rute yang dilayani, serta banyaknya jumlah bis yang beroperasi. Namun dalam hal kelayakan kendaraan tentu saja tidak bisa dibandingkan. Kondisi dalam bus serta luarnya sama parah. Interior berupa bangku keras serta pegangan besi berkarat. Bagian luar, kebanyakan bis tidak memiliki lampu yang berfungsi dengan baik, yang bisa menyebabkan kecelakaan.

Bayangkan kalau saja, kedua organisasi angkutan ini bisa mendapatkan bantuan ataupun insentif dari pemerintah untuk peremajaan angkutan. Pasti setidaknya itu akan membantu memecahkan masalah kekurangan transportasi umum yang layak seperti saat ini. Tapi boro-boro diberi bantuan, yang ada justru mereka diperas oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab ataupun oleh retribusi-retribusi resmi yang dananya kemudian digunakan secara tidak bertanggung jawab pula.

Di situ lah rasa dongkol saya timbul. Melihat pemerintah yang begitu bodo, sudah tidak mampu menyediakan fasilitas umum, namun masih egois tidak mau bekerja sama dengan pihak swasta yang sudah ada. Lantas, hal apa yang bisa mereka lakukan? Tidak perlu penyidik KPK ataupun auditor BPK untuk membuktikan bahwa ada korupsi pada sistem pajak ataupun retribusi kendaraan. Pajak yang dikenakan terhadap kendaraan pribadi, kendaraan umum, ataupun retribusi yang ada di terminal-terminal umum, seharusnya digunakan juga untuk meningkatkan pelayanan dalam hal sektor tersebut. Tapi kalau pajak dan retribusinya selalu ditarik dengan nilai yang selalu meningkat pula, sementara pelayanannya tidak pernah meningkat dan justru menurun, maka 100% bisa dipastikan ada yang corrupt (baca: rusak) di sana!

Bukan hanya pemerintah daerah yang salah dalam hal ini. Pemerintah pusat pun patut disalahkan. Tidak tanggung-tanggung, kabinet kerja pemerintah selalu memiliki menteri yang mengurusi maslah koperasi. Tapi apa peranannya dalam hal membantu si Kopaja, yang jelas-jelas kepanjangannya adalah Koperasi Angkutan Jakarta. Kopaja adalah salah satu jenis koperasi. Dan dalam pandangan saya termasuk koperasi yang memiliki prospek yang baik. Karena dalam hal angkutan umum jelas tidak akan kekurangan pembeli (baca: penumpang), yang ada justru malah peningkatan dari tahun ke tahunnya. Apalagi, pertumbuhan jalan raya di Jakarta tidak sebanding dengan pertumbuhan penggunanya. Walaupun nantinya ada subway, keberadaan bis-bis kota ini masih akan tetap diperlukan mengingat luasnya kota Jakarta yang tidak bisa dicover oleh keberadaan subway, busway ataupun way-way lainnya. Boro-boro bisa memajukan koperasi-koperasi kecil di daerah lain. Koperasi yang sudah ada dan sudah jelas prospeknya di depan hidung saja tidak pernah bisa dibuat maju. Maka sama saja pertanyaannya? Apa saja sebenarnya yang mereka (baca: pemerintah) lakukan?!

Dalam kasus “kentut” ini, ada tiga pelanggaran terhadap kewajiban sebagai peneyelanggara pemerintahan yang telah dilakukan oleh Bang Foke sebagai pemimpin barisan aparat pemerintahan daerah serta SBY sebagai pentolan negara. Yang pertama adalah, ketidak mampuan mereka dalam hal bekerja untuk memenuhi salah satu pelayanan publik yaitu transportasi umum. Ganti gubernur berarti ganti solusi tanpa sempat terselesaikan. Zaman Bang Yos sebelumnya ada proyek monorail yang gagal dan hanya menyisakan tiang-tiang tidak berguna pengganti pohon rindang. Era Bang Foke yang sudah hampir berakhir-dan terancam tidak dilanjutkan ( sukur alhamdulilah) karena sudah kalah dalam pemilukada putaran pertama-justru memunculkan solusi subway pada detik-detik terakhir. Kemungkinan besar penggantinya adalah calon gubernur yang selama kampanye hanya menjanjikan akan menambah jumlah transportasi umum sebanyak-banyaknya, tanpa menyebutkan secara jelas apa dan bagaimana bentuknya. Yang sering ditunjukkan justru kartu ecek-ecek, yang digembor-gemborkan akan menjadi kartu penyelamat warga Jakarta dalam hal pelayanan kesehatan. Tidak jelas juga bagaiamana bentuk dan sistem pelayanannya, hanya kartu ecek-eceknya saja yang sering ditunjukkan. Maka bisa terbayang pula, nasib permasalahan transportasi ini akan  semakin tidak jelas, dan bisa jadi nasib si subway akan sama seperti kisah monorail sebelumnya.

Yang kedua adalah, ketidak mampuan mereka dalam menciptakan kerja sama dengan swasta ataupun koordinasi bersama pemerintah-pemerintah kota/kabupaten sekitar Jakarta yang warganya banyak bekerja di Jakarta. Sistem tramnsportasi terpadu yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota sekitar seperti Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor tidak pernah mencapai titik temu. Para pemimpin pemerintah daerah tersebut saling cuek-cuekan dan hznya membiarkan para warganya berantem sendiri setiap harinya di jalanan, terminal bus, atau stasiun kereta di Jakarta. Pemerintah pusatnya pun cuma bisa bengong melongo tanpa ada sedikitpun insiatif memecahkan masalah, dengan selalu berlindung di balik kata otonomi daerah! Kementrian-kementrian yang ada tidak mampu pula memberi sumbangsih dalam hal memberdayakan pihak swasta untuk bisa berpartisipasi mennyediakan sarana transportasi yang layak. Bukan yang sekedar ada seperti sekarang ini.

Dan yang ketiga adalah, setelah beberapa ketidak mampuan di atas, mereka pun tutup mata terhadap pelanggaran-pelanggaran yang jelas-jelas dilakukan oleh bis-bis kota yang sudah sekarat tersebut. Mulai dari kendaraan tanpa lampu baik lampu utama ataupun lampu-lampu sign, pengemudi yang ugal-ugalan dalam membawa kendaraan atau berhenti serta ngetem tidak pada tempatnya. Sementara razia terhadap motor yang tidak menyalakan lampu utama pada siang hari rajin dilakukan, bis-bis tanpa kelengkapan justru bisa tetap melengganng dengan aman. Kalau saja aturan ditegakkan, mungkin tidak sampai seminggu semua supir bis kota akan memenuhi undangan hadir di persidangan lalu-lintas. Kalau saja saya jadi polisi lalu lintas, dalam satu hari mungkin semua bis Kopaja dan Metromini yang melintas sepanjang Pasar Minggu – Pancoran akan saya tilang tepat sebelum lampu merah Kalibata (karena disitu biasanya kondisi selalu macet). Sebab hampir semua bis yang ada pasti ada kekurangan dalam hal kelengkapan lampu-lampunya.

Demikianlah, kenapa perasaan dongkol saya tidak bisa hilang. Sebab asap “kentut” tadi sesungguhnya adalah wujud dari lemahnya kepemimpinan yang ada di negeri ini. Selama asap “kentut” tadi masih ada, maka itu berarti negeri ini tetap masih berada di bawah kepempinan yang lemah dan bobrok, yang tidak akan pernah bisa menyejahterakan rakyatnya. Merdeka!!!

Jakarta, 23 Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s