“Curhat” As A Habit

Dua hari ini saya sedang menyepi di rumah adik ibu saya di sebuah perumahan di perbatasan Citayam dengan Bojonggede. Menyingkir sejenak dari panasnya udara di kota Depok, sekaligus menikmati masa libur 2 hari yang diberikan oleh kantor sebelum saya bertugas selama 11 hari untuk piket di kantor karena yang lainnya sedang cuti Lebaran. Saya sengaja kesini karena kebetulan rumah tante saya terletak tepat di pinggir kali Ciliwung dengan deretan pohon jati yang rindang yang tumbuh sepanjang pinggir jurang. Saya bermaksud menyiapkan “naskah” yang akan saya terbitkan di blog dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

Dua malam sudah saya disini, tapi belum ada satu pun tulisan yang jadi. Saya malah asyik membuat tulisan mengenai resensi film dan kebanyakan waktu malah saya habiskan untuk main game favorit saya, Football Manager 2012. Saya sudah meniatkan diri, apapun yang terjadi, malam ini saya harus berhasil menyelesaikan tulisan tersebut. Inspirasinya sudah ada, hanya tinggal menuangkan dalam bentuk tulisannya yang sulit. Namun tidak disangka-sangka, setengah jam sebelum tengah malam, justru muncul inspirasi baru. Datangnya dari siaran televisi tyang menayangkan konferensi pers dari Istana oleh bapak pemimpin kita semua, Presiden SBY. Saya setengah geli dan setengah kesal mendengarkan konferensi pers tersebut. Karena lagi-lagi sang pemimpin tertinggi militer kita yang juga pensiunan jenderal tersebut malah asyik menyampaikan curhat-nya di awal konferensi pers.

Beliau menceritakan bahwa pada saat ini, beliau sedang sibuk menyiapkan naskah pidato untuk disampaikan di depan DPR besok. Serta sedang sibuk menyiapkan acara peringatan Detik-detik Proklamasi di tanggal 17 lusa. Namun beliau masih juga harus menyempatkan diri untuk menggelar konferensi pers untuk meluruskan pemberitaan mengenai beliau yang dirasa tidak benar dan menyesatkan. Yang lucu bagi saya adalah bagaimana cara beliau menyampaikan penjelasan yang harus berputar-putar, padahal semua orang sudah tahu (karena sudah diumumkan sebelumnya) bahwa konferensi pers itu diadakan untuk meluruskan pengakuan dari mantan Ketua KPK yang sekarang ada di dalam penjara tentang kehadiran Presiden SBY dalam rapat membahas soal Bank Century. Saya geli setengah mati melihat bagaimana seorang pemimpin tertinggi sampai sedemikian manisnya dalam memberi penjelasan. Yang lebih lucu lagi, beliau juga menyatakan kecewa bahwa di bulan yang suci ini kok masih saja ada orang yang tega menyebarkan fitnah.

Saya tidak mengikuti konferensi pers tersebut sampai selesai, karena jelas-jelas isinya tidak penting. Bagaimana bisa dibilang penting kalau di awalnya saja sudah menceritakan hal-hal yang tidak penting. Memangnya seberapa sibuk sih seorang presiden dalam menyiapkan naskah pidato? Bukannya sudah ada tim ahli yang bekerja khusus untuk hal itu selama ini? Dan lagipula, konyol rasanya kalau besok sudah mau nampil tapi baru malam ini dikerjakan naskahnya. Kayak anak sekolahan saja yang baru belajar semalam sebelum menghadapi ulangan di sekolah…hehehe..Kemudian yang sama parahnya, seberapa sibuk sih seorang presiden dalam menyiapkan acara 17-an di istana? Memangnya tidak ada panitia yang dibentuk khusus untuk mengerjakannya? Atau jangan-jangan justru presiden sendiri ketua panitianya? Mosok, seorang presiden sama fungsi dan tugasnya dengan seorang ketua RT/RW yang sibuk dalam menyiapkan acara 17-an karena di jaman sekarang ini sudah tidak ada lagi pemuda-pemudinya yang mau jadi karang taruna.

Hal ini semakin menegaskan predikat presiden curhat yang sebelumnya sudah melekat kepada beliau. Saya kemudian coba merenungkan, bahwa bukan hanya sekali dua kali saja beliau melakukan hal seperti ini. Dan bukan sekali dua kali pula beliau kemudian menuai begitu banyak kritik mengenai cur-col(curhat colongan)nya tersebut. Dan saya pun bisa memastikan bahwa banyak orang terlebih lagi lawan-lawan politik beliau yang akan menertawakan konferensi pers malam ini. Namun kenapa beliau ini masih saja tidak berubah ya? Akhirnya saya kemudian mencoba berprasangka baik terhadap beliau. Mungkin itu memang sudah sifatnya dari dulu, yang jelas-jelas terlihat namun tidak kita perhatikan. Tentu kita masih ingat, bahwa beliau bisa meroket popularitasnya menjelang Pemilu 2004 karena beliau menggambarkan dirinya terzalimi oleh Presiden Megawati dan orang-orang terdekatnya. Waktu itu suami Presiden Megawati, Taufik Kiemas dengan blak-blakan mengatakan kepada pers bahwa jenderal yang satu ini seperti anak kecil, sukanya mengadu saja. Berangkat dari situlah maka kemudian beliau bisa meraih simpati dan akhirnya terpilih sebagai presiden.

Saya jadi sadar, bahwa sebenarnya kebiasaan curhat beliau sudah terlihat sejak saat itu. Namun saya tidak memperhatikannya dan malah justru ikut memilih beliau di dalam pemilu! Yang kacau, 5 tahun menjabat dan juga sering curhat, saya masih tetap tidak memperhatikan dan kembali memilih beliau dalam pemilu 2009 yang lalu! Hehehe…saya jadi merasa bodoh sendiri malam ini, karena sempat kesal terhadap cara beliau curhat. Padahal itu kan sebuah konsekuensi dari pilihan saya juga. Saya memilih seorang presiden yang punya kebiasaan curhat, jadi tidak boleh kesal kalau suatu saat sang presiden curhat. Dan untuk itu saya juga ingin mengajak saudara-saudara sebangsa dan se-tanah air, terutama yang ikut memilih beliau, untuk tidak boleh kesal atas aksi curhat beliau malam ini. Semoga kita semua bisa insyaf, dan tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari. Soal gerutuan saya di atas, anggap saja itu sebuah curhat dari saya. Didengar sukur, tidak didengar, ya sukur….:D

Merdeka!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s