Merdeka dari Korupsi

Sejarah mencatat bahwa penduduk yang hidup di kepulauan Nusantara ini telah mengalami masa penjajahan selama 350 tahun oleh bangsa Belanda (diselingi sebentar oleh Portugis dan Inggris) serta 3,5 tahun oleh bangsa Jepang. Setalah melewati penantian yang cukup panjang, akhirnya bangsa ini bisa meraih kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Saat ini, di tahun 2012, berarti sudah 67 tahun kita merdeka. Merdeka dari penjajahan (fisik) oleh bangsa asing. Namun melihat kondisi kehidupan bangsa saat ini, boleh saya katakan bahwa bangsa ini belum bisa lepar dari penjajahan korupsi.

Korupsi secara umum bisa digambarkan sebagai tindakan menilep uang negara yang kemudian digunakan untuk kepentingan pribadi. Walaupun asal katanya dari bahasa Inggris corrupt yang cenderung berarti rusak atau merusak. Kata korupsi sangat identik dengan masa pemerintahan Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto, dimana saya sangat tidak setuju dengan hal tersebut. Karena sesungguhnya korupsi hadir di negeri ini mulai dari negeri ini baru merdeka. Tidak ada satupun masa pemerintahan yang bersih dari korupsi. Kita telah memiliki 6 orang presiden yang pernah dan sedang memimpin negeri ini. Presiden pertama Soekarno memang tidak pernah dituduh korupsi, namun pemerintahan yang dipimpinnya jelas tidak bersih dari korupsi. Di masa-masa demonstrasi mahasiswa tahun 1965-1966, jelas sekali digambarkan bagaimana para demonstran menyerukan pembersihan terhadap pejabat-pejabat negara terutama menteri yang hidup mewah di tengah kondisi ekonomi yang sedang anjlok pada masa itu. Tidak perlu repot-repot mencari bukti, saya cukup yakin bahwa pejabat-pejabat negara tersebut pasti pernah korupsi (baca: menilep uang negara). Presiden kedua, Soeharto jelas-jelas korupsi. Dan yang parah bukan hanya dirinya yang korupsi melainkan juga keluarga dan kroni-kroninya. Selanjutnya berturut-turut setelahnya adalah BJ. Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono juga tidak (atau belum) pernah didakwa korupsi. Namun di masa pemerintahan mereka selalu saja ada kasus korupsi baik yang besar ataupun kecil.

Hal ini menggambarkan bagaimana negara ini begitu terbelenggu oleh suatu kejahatan yang bernama korupsi itu. 67 tahun merdeka, namun boleh dibilang bangsa ini belum mampu suatu kemajuan berarti. Setiap usaha untuk bangkit dari keterpurukan menuju kemakmuran selalu saja dihalangi oleh kasus-kasus korupsi.

Reformasi yang dicanangkan pada tahun 1998 kemarin dulu, sebenarnya dimaksudkan untuk membawa bangsa ini terbebas dari belenggu tersebut. Namun yang terjadi justru belenggu tersebut malah semakin kuat mengikat bangsa ini. Korupsi yang terjadi sejak masa reformasi hingga saat ini menurut saya bernilai puluhan kali lipat dosanya dibanding korupsi yang terjadi sebelum masa reformasi. Kalau di masa sebelum reformasi ada korupsi, kita mungkin masih bisa “memakluminya”. Maklum dalam arti karena pada masa itu kita masih hidup di dalam masa “kegelapan”. Tidak mengetahui dan mungkin masa bodoh dengan korupsi yang terjadi. Namun setelah reformasi, dengan sekian banyak tokoh anti korupsi yang berdiri di depan menjadi pemimpin, kenapa justru korupsi masih ada dan malah semakin tumbuh subur?

Menjelang HUT Kemerdekaan ke-67 ini, kita justru disuguhkan oleh kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh para oknum dari lembaga-lembaga “pemberantas” korupsi itu sendiri. Kepolisian terjerat kasus korupsi simulator SIM. Dari kubu pemerintahan ada kasus korupsi di Kementrian Agama, serta Kementrian Pemuda dan Olahraga. Dari partai politik pemerintah ada kasus korupsi yang mengedepankan nama Anas Urbaningrum dan Angelina Sondakh yang justru pernah tampil dalam iklan anti korupsi Parta Demokrat, partai yang menjadikan slogan “katakan tidak pada korupsi” sebagai tagline kebanggaan mereka. Kasus-kasus di atas boleh dibilang justru hanya sebagian kecil saja. Yang lebih mengerikan sebenarnya ada di korupsi yang terjadi di tingkat pemerintahan-pemerintahan daerah. Entah sudah berapa banyak kepala daerah yang diadili dan dipenjara karena kasus korupsi sejak masa pemilukada dimulai di negeri ini. Namun hebatnya bangsa ini belum kapok juga. Rakyatnya tetap saja mau memilih pemimpin korup untuk menggantikan pemimpin yang dinilai korup. Pemimpin yang dipilih pun juga masih mau korupsi begitu menggantikan pemimpin sebelumnya yang masuk penjara karena korupsi.

Melihat kondisi yang seperti ini, saya kok rasa-rasanya  sangat pesimis bisa menyaksikan masa dimana bangsa dan negeri ini bisa benar-benar merdeka dari korupsi. Selama ini sejarah mengajarkan kepada kita bahwa sesungguhnya kita baru benar-benar melakukan perlawanan berarti terhadap penjajahan Belanda sejak akhir abad 19. Sebelumnya selama hampir 300 tahun lebih boleh dibilang bangsa ini demikian terbuai dengan penjajahan dan tidak mau melawannya dengan segenap hati. Apakah kemudian sifat ini yang kemudian “diturunkan” kepada generasi yang sekarang? Kita sudah tahu bahwa kita sekarang ini sedang “terjajah” oleh korupsi. Kita tahu bahwa akibat “penjajahan” yang sekarang, kita tidak juga mampu mencapai suatu kemakmuran. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, yang pas-pasan tetap saja ngepas dan tidak pernah naik. Namun kenapa kita tetap mau hidup seperti ini? Kenapa perlawanan terhadap “penjajah” hanya dilakukan oleh segelintir orang? Kenapa kita justru juga ikut mengambil bagian di dalam “penjajahan” (baca: ikutan korupsi) tersebut?

Dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-67 besok, marilah kita semua sama-sama membulatkan tekad untuk “menyingsingkan lengan baju” dan “mengangkat senjata” untuk “berperang” terhadap korupsi! Kali ini, kita tidak perlu lagi harus menunggu hingga 350 tahun untuk sekali lagi mencapai kemerdekaan. Mari bersama-sama kita bekerja keras mewujudkan kemerdekaan tersebut. Merdeka dari korupsi.

Merdeka!!

Citayam, 16 Agustus 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s