forrest_gump_w1

Sembilan Film (Asing) Terbaik

Kriteria film yang baik menurut saya adalah film yang gambarnya dapat memanjakan mata, kemudian memiliki output suara yang baik dan jelas, serta yang terakhir adalah memiliki plot cerita yang baik serta didukung oleh penampilan acting yang baik pula dari pemainnya. Kesembilan film di bawah ini adalah film-film yang (sekali lagi) menurut saya bisa dikatakan sebagai film-film yang termasuk dalam kriteria di atas. Masuk sebagai 9 yang terbaik dari sekian banyak film yang pernah saya tonton, yang artinya masih ada kemungkinan untuk keluar dari daftar ini apabila di kemudian hari ada film yang lebih luar biasa yang saya tonton. Kenapa 9 film? Karena 9 adalah angka tertinggi dalam susunan angka yang kita pakai, angka-angka berikutnya hanyalah merupakan pengulangan saja…:D

Sekedar sebagai perbandingan saya juga menyertakan daftar peringkat film-film ini sesuai peringkat mereka di Top 250 Movies All Time versi IMDB (Internet Movies Data Base). Dari kesembilan film yang ada di daftar saya, ada dua film yang tidak termasuk dalam daftar Top 250 tersebut, yaitu I Am Sam, dan Philadelphia namun justru berada di 5 besar dalam peringkat saya. Berikut daftar kesembilan film tersebut serta sedikit pembahasannya.

1.  Forrest Gump (1994)

Peringkat IMDB : #21

Berada di urutan pertama dalam daftar saya, karena film inilah yang menggugah saya untuk bisa “mereguk kepuasan” dari sebuah film. Hampir seluruh gambar yang ada di film ini bisa memanjakan mata kita. Ditambah deretan musik serta lagu pengisi (soundtrack) yang juga luar biasa, menjadikan film ini sempurna. Cerita yang ditampilkan memang tidak terlalu kuat dan malah boleh dibilang sangat sederhana. Akan tetapi semuanya diisi dengan penggambaran yang membuat kita tidak bosan menonton hingga akhir. Pada dasarnya film ini hanya ingin mengisahkan “perjalanan cinta” seorang Forrest Gump terhadap teman masa kecilnya yang bernama Jenny. Yang membuat kisah cinta ini menjadi menarik adalah fakta bahwa Forrest adalah seorang pria ber-IQ rendah yang polos dan lugu, namun demikian tetap bisa mengerti apa itu “cinta” sebenarnya. Sementara Jenny adalah seorang gadis yang memiliki trauma masa kecil sebagai anak broken home. Jenny tumbuh menjadi gadis yang hidup tanpa arah dan pegangan. Mengalami masa-masa menjadi roadie girl, memakai obat bius, serta hinggap dari satu lelaki ke lelaki lain. Forrest melewati masa perang Vietnam sebagai prajurit, yang kemudian menjadi atlet tenis meja setelah terluka di medan perang. Menjadi pengusaha udang bersama mantan kaptennya yang cacat karena kedua kakinya buntung terkena ledakan bom. Hingga menjadi seorang kaya raya karena uang hasil usaha tersebut diinvestasikan ke sebuah perusaahan besar oleh sang kapten. Forrest melewati semua masa-masa luar biasa itu dengan tetap menyimpan kekosongan dalam hatinya yang hanya bisa diisi oleh Jenny yang telah pergi tidak diketahui rimbanya. Hingga suatu hari Jenny muncul di depan pintu rumah Forrest.

Selain berkisah soal pergulatan hati seorang lugu seperti Forrest soal cinta. Film ini juga mengangkat nilai-nilai kehidupan lewat perjuangan Capt. Dan yang memiliki kebanggaan sebagai seorang prajurit dan memiliki impian mati terhoramt di medan perang, namun justru harus terpaksa hidup dengan kondisi invalid karena diselamatkan oleh Forrest. Sejak awal hingga akhir, film ini bukan hanya menampilkan gambar serta musik yang luar biasa, namun juga menggugah hati kita lewat cerita-cerita yang sebenarnya sederhana. Kombinasi arahan sutradara Robert Zemeckis, akting Tom Hanks, serta komposisi musik dari Alain Silevstri berhasil membuat film ini meraih 6 Academy Award di tahun 1994 termasuk di dalamnya penghargaan untuk kategori Best Picture. Bagi saya, ada empat adegan yang paling monumental dan selalu teringat. Yang pertama adalah adegan ketika Capt. Dan pada akhirnya mengucapkan terima kasih kepada Forrest yang telah menyelamatkan nyawanya. Ucapan terima kasih itu disampaikan di tengah laut ketika mereka berdua untuk pertama kali berhasil “panen” udang. Setelah menyampaikan ucapan terima kasihnya, sang kapten tanpa kedua kaki tersebut kemudian meloncat ke laut dan berenang di sekitar kapal. Dan saat itu Forrest berpendapat bahwa sang kapten pada akhirnya telah “berbaikan” dengan Tuhan yang selama ini “dimusuhi” oleh sang kapten. Yang kedua adalah adegan pada saat Jenny mengatakan bahwa Forrest adalah pria yang terlalu baik untuk mendapatkan seorang gadis seperti dia yang telah menjalani kehidupan yang berantakan. Forrest mengatakan kepada Jenny bahwa walaupun ia terlahir bodoh, namun ia tetap mengerti apa itu cinta. Seindah apapun kata-kata yang digunakan untuk membungkus suatu penolakan, namun tetap saja ia bisa memahami artinya serta merasakan sakit yang ditimbulkannya. Yang ketiga adalah adegan dimana Forrest pada suatu saat memutuskan untuk berlari dan hanya berlari ketika Jenny meninggalkannya (lagi, untuk kesekian kalinya). Adegan ketika Forrest melewati pergantian hari di tengah padang gurun, dengan landscape pemandangan matahari terbit serta tenggelam membuat saya bisa ikut merasakan kehampaan yang saat itu dirasakan oleh Forrest. Dan yang terakhir tentunya adalah adegan penutup film. Semua yang pernah menonton film ini tentunya setuju dengan saya bahwa adegan ini sangat luar biasa. Serta buat yang belum pernah menonton film ini, saya tidak akan menjelaskan detail adegan tersebut dan hanya berharap agar anda segera menonton film ini….:D

2.  The Shawshank Redemption (1994)

Peringkat IMDB : #1

Situs IMDB menempatkan film ini sebagai peringkat pertama dalam Top 250 Movies bukanlah tanpa alasan. Saya pun setuju dengan hal tersebut, namun sayangnya film ini harus berada di urutan kedua dalam daftar saya. Hal ini disebabkan film Forrest Gump memiliki makna tersendiri bagi saya yang tentunya tidak dimiliki oleh para pemilih di situs IMDB yang membuat film ini berada di urutan pertama. Hehehe…tidak objektif memang, tapi apa boleh dikata mengingat ini adalah daftar 10 Film terbaik menurut saya.Film ini bercerita tentang seorang Andy Dufresne, seorang bankir muda sukses yang harus melewati 20 tahun didalam penjara karena dituduh membunuh istrinya yang ketahuan selingkuh dengan pria lain. Film ini menggambarkan bagaimana mengerikannya ketika kehidupan serta kebebasan kita bisa direnggut sedemikian rupa oleh suatu sistem kehidupan paling rendah yang ada sejak jaman purba hingga sekarang yang bernama penjara. Hanya satu kebebasan yang benar-benar dimiliki oleh seseorang yang berada di dalam penjara. Yaitu kebebasan untuk berpikir. Seluruh raga kita boleh terpenjara. Namun di dalam pikiran kita bisa benar-benar bebas, dan itu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa direnggut oleh kebrutalan di dalam penjara. Impian yang tetap hidup di dalam pikiran yang juga tetap terjaga agar senantiasa jernih bisa menuntun seseorang menuju kebebasan yang sejati, walaupun membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mewujudkannya. Pesan moral yang demikian kuatlah yang menjadikan film ini jadi sangat luar biasa bagi saya. Walaupun demikian bukan hanya kuatnya pesan moral itu saja yang menjadikan film ini jadi nomor satu di IMDB. Seperti saya sebutkan di atas, film yang baik haruslah memenuhi kriteria gambar, musik, cerita serta akting baik  pula. Dan film ini saya anggap telah memenuhi kriteria-kriteria tersebut.

3.  Cinema Paradiso (1988)

Peringkat IMDB : #78

Film yang menggambarkan kecintaan seorang anak kecil terhadap film yang pada akhirnya mendorong ia menjadi seorang sutradara dan produser film terkenal. Ber-setting di sebuah desa di Sisilia pada masa Perang Dunia II, film ini menampilkan tiga bagian perjalanan hidup sang sutradara film Giuseppe Tornatore. Bagian pertama menceritakan tentang masa kecil tokoh Salvatore “Toto” di Vita yang berteman dengan seorang petugas ruang proyektor di bioskop Cinema Paradiso bernama Alfredo. Toto yang hidup bersama ibu dan adik perempuannya belum pernah mengenal ayahnya karena sang ayah pergi berperang sejak Toto masih sangat kecil. Ia menjadi “teman” bagi Alfredo yang kebetulan juga tidak memiliki anak. Kisah-kisah masa kecil Toto yang nakal di sekolah maupun di gereja dimana ia bertugas menjadi putera altar serta “pertengkaran-pertengkarannya” dengan Alfredo digambarkan dengan sangat menarik. Akting Salvatore Cascio sebagai Toto kecil menjadi faktor utama di film ini. Walaupun nakal dan sering mengganggu namun Alfredo menyayangi Toto seperti anaknya sendiri. Keduanya begitu sedih ketika bioskop Cinema Paradiso pada suatu ketika terbakar habis. Di bagian masa kecil ini kita bisa melihat kelucuan-kelucuan yang terjadi pada masa itu dimana suasana politik turut pula mempengaruhi suasana menonoton film di dalam bioskop yang masih sangat “primitif”. Bagian pertama film ini demikian kuatnya sehingga ketika tiba di bagian akhir film mau tidak mau kita terbawa perasaan akan kenangan-kenangan masa kecil Toto. Di bagian kedua, menceritakan tentang masa remaja Toto yang bekerja menggantikan Alfredo yang menjadi buta akibat peristiwa kebakaran dulu. Bioskop mereka pun telah berganti nama menjadi Nuovo Cinema Paradiso (New Paradise Cinema). Di bagian ini Toto jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Elena. Karena faktor orang tua, Toto tidak bisa mewujudkan impiannya untuk bisa hidup bersama Elena. Toto yang terluka kemudian pergi meninggalkan Sisilia mengikuti anjuran dari Alfredo. Ia pergi untuk memulai hidup baru serta meninggalkan semua kenangan yang ada di desa itu. Bagian ketiga menceritakan bagaimana Toto dewasa yang telah menjadi seorang sutradara dan produser film terkenal kembali ke kampung halamannya untuk pertama kali setelah 30 tahun. Toto kembali untuk menghadiri pemakaman Alfredo yang kemudian mengajak kita mengenang kembali masa-masa kecil Toto di bagian awal film. Di sini pula diceritakan bagaimana Toto bertemu kembali dengan cinta masa mudanya yaitu Elena yang telah menikah dan memiliki seorang anak. Sejak kepergiannya dari Sisilia, Toto sesungguhnya tidak pernah bisa melupakan Elena dan hidup tanpa merasakan cinta sejati. Dan ketika bertemu kembali dengan Elena, ada setitik keinginan untuk bisa kembali mewujudkan cintanya walaupun Elena telah berkeluarga. Namun pada akhirnya karena telah sama-sama tua dan berkeluarga, mereka berdua sadar bahwa segala sesuatunya telah terlambat dan harus menjalani kehidupan yang telah mereka miliki saat ini masing-masing. Merupakan film pertama (dan satu-satunya) yang berhasil membuat saya menangis. Di bagian ketiga film ini, ketika Toto dewasa pulang ke rumah di malam hari setelah berjalan-jalan mengenang desa masa kecilnya, sang ibu telah siap di meja makan duduk menunggu Toto. Ia menceritakan bagaimana setiap malam semenjak kepergian Toto ia selalu duduk di situ dan merasa yakin bahwa suatu saat Toto akan datang dan membuka pintu di malam hari sebagaimana kebiasaannya dahulu ketika masih bekerja di bioskop. Film ini tidak begitu terkenal di Indonesia karena tidak pernah diputar di bioskop. Namun buat saya, film ini sangat recommended…

4.  Life is Beautiful-La Vita e Bella (1997)

Peringkat IMDB : #60

Memiliki nuansa yang hampir sama dengan film Cinema Paradiso, karena sama-sama film Italia dan menampilkan tokoh anak kecil yang lucu. Bercerita tentang perjalanan hidup sebuah keluarga yang terpisah di masa Perang Dunia II oleh kekejaman tentara Nazi. Giosue (Joshua) Orefice yang bersama ayahnya ditangkap dan dibawa ke kamp konsentrasi Nazi karena merupakan orang Yahudi harus menjalani hari-harinya dengan bermain “petak umpet” di dalam kamp. Sang ayah yang menyembunyikan Giosue mengatakan bahwa saat ini mereka sedang berlomba untuk memperbutkan hadiah sebuah tank perang sungguhan. Hal ini dilakukan sang ayah karena tidak mungkin menjelaskan pada Giosue yang masih kecil bahwa sebenarnya mereka saat ini sedang berada di dalam tawanan. Hal ini dilakukan agar mereka berdua bisa tetap bersama. Sementara sang ibu yang merupakan orang Italia tidak ikut ditangkap, namun pada akhirnya sengaja ikut masuk menjadi tawanan untuk bisa menemui suami dan putranya. Film ini cukup mengaharukan namun bukanlah film yang menampilkan adegan tangisan berurai air mata seperti sinetron Indonesia. Adegan-adegan mengharukan justru hadir lewat kelucuan-kelucuan yang dilakukan oleh Giosue dan ayahnya. Meraih 3 Academy Award termasuk di dalamnya penghargaan Best Actor untuk Roberto Benigni (Guido Orefice).

5.  I Am Sam (2001)

Peringkat IMDB : Tidak masuk daftar

Tentu anda bertanya bagaimana bisa film yang tidak masuk dalam daftar Top 250 Movies malah menempati posisi ke-5 di dalm daftar saya? Jawabannya sederhana, karena saya “jatuh cinta” kepada Dakota Fanning lewat film ini, dan soundtrack film ini seluruhnya menggunakan lagu-lagu The Beatles!!….:D

Bercerita tentang seorang ayah yang ber IQ rendah bernama Sam (Sean Penn) yang hidup bersama anaknya Lucy Diamond (Dakota Fanning) yang dinamakan berdasarkan sebuah lagu The Beatles, Lucy in the Sky with Diamond. Mereka berdua harus hidup terpisah karena Dinas Sosial menganggap bahwa Sam tidak layak menjadi orang tua tunggal bagi Lucy. Intelegensia Sam terbatas sampai intelegensia sorang anak berumur 7 tahun, yang oleh karenanya dianggap tidak layak untuk bisa merawat seorang anak. Cinta ayah dan anak dalam film ini digambarken begitu sempurna lewat “kedewasaan” akting dari Dakota Fanning yang saat film ini dibuat masih berumur 7 tahun. Sejak awal hingga akhir kita dimanjakan oleh kehadiran lagu-lagu The Beatles yang menjadikan film ini memiliki style tersendiri walaupun merupakan film drama. Coba saja bayangkan tentang seorang anak kecil, serta sekumpulan pria dewasa ber IQ rendah sering mendiskusikan filosofi dari lagu-lagu karya The Beatles!!..hehehe..cukup bergaya kan?

6.  The Godfather(1972)

Peringkat IMDB : #2

Film “aksi” terbaik menurut selera saya. Pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan di film ini semuanya benar-benar “tradisional” lewat cara mencekik dan bukannya dengan senapan berperedam. Namun bukan hal itu yang menjadi alasan film ini bisa jadi film yang terbaik. Cerita penuh intrik dalam dunia mafia yang di film ini digambarkan terjadi di keluaraga Corleone menjadi “sajian” utama. Perebutan kekuasaan dalam dunia bisnis antar keluarga, serta jebakan-jebakan untuk saling menjatuhkan, dan aliansi-aliansi yang kerap berganti sesuai dengan kesetiaan dan kepentingan menjadikan film ini tidak membosankan dari awal hingga akhir, padahal dibandingkan aksinya film ini lebih banyak didominasi dengan dialog-dialog. Akting Al Pacino dan Marlon Brando benar-benar high class di film ini. Jangan pernah mengaku anda pecinta film kalau belum pernah menonton film ini. Dan jangan bilang anda ngerti soal film kalau anda tidak menyukai karya masterpiece seorang Francis Ford Coppola ini.

7.  Saving Private Ryan (1998)

Peringkat IMDB : #40

Merupakan film dengan latar belakang Perang Dunia II yang saya anggap menyuguhkan aksi paling yahud dibandingkan film-film lain yang sejenis. Bercerita tentang sekelompok pasukan yang mendapat tugas khusus untuk mencari dan membawa pulang seorang prajurit bernama James Ryan (Matt Damon). Ryan “dipaksa” pulang karena ketiga saudaranya yang juga ikut berperang telah tewas, dan oleh karenanya Jenderal George Marshall sendiri yang memberi perintah untuk “mengembalikan” James Ryan sebagai satu-satunya anak yang tersisa kepada ibunya. Kapt. Miller (Tom Hanks) pun dipilih untuk mengemban tugas tersebut, dengan membawa beberapa anak buahnya. Ketika mereka berhasil menemukan Ryan, prajurit tersebut justru tidak mau pulang dan memilih untuk tetap bersama pasukannya mempertahankan sebuah jembatan. Kapt. Miller dan pasukannya sepakat untuk tinggal dan membantu pasukan tersebut, yang pada akhirnya justru mengakibatkan tewasnya hampir seloruh anggota kelompok penjemput prajurit Ryan bahkan hingga sang kapten sendiri. Dengan kekuatan cerita dan aksi peperangan yang digambarkan sangat baik, maka saya memilih film ini menjadi film dalam kategori perang terbaik.

8.  Philadelphia (1986)

Peringkat IMDB : Tidak masuk daftar

Film ketiga Tom Hanks yang masuk dalam daftar saya. Jujur harus saya akui, film-film Tom Hanks hampir tidak ada yang “mengecewakan” saya, menurut saya adalah suatu “keberuntungan” seorang Tom Hanks bisa terlibat di film-film luar biasa. Atau justru sebaliknya? Yang pasti untuk di film ini saya tidak hanya mengagumi akting Tom Hanks. Penampilan Denzel Washington justru lebih menarik perhatian. Yang membuat saya menyukai film ini adalah ceritanya yang sangat menggetarkan hati. Andrew Beckett (Tom Hanks) adalah seorang pengacara muda yang memiliki karier cemerlang di sebuah firma hukum terkenal di Philadelphia. Spesialisasinya adalah sengketa-sengketa dalam hukum bisnis. Namun pada suatu hari, Beckett dipecat oleh firmanya setelah ketahuan mengidap penyakit AIDS dan sekaligus diketahui sebagai seorang gay. Tidak terima akan hal tersebut, Beckett kemudian mencari pengacara untuk membawa kasus ini ke pengadilan. Pilihan jatuh kepada Joe Miller (Denzel Washington), pengacara hak-hak sipil dan masyarakat yang sebelumnya dikalahkan Beckett pada suatu kasus. Awalnya Miller menolak menjadi pengacara Beckett karena pandangan konservatifnya soal pasangan sejenis. Namun pada akhirnya ia justru mengajukan diri untuk menjadi pengacara Beckett dengan satu alasan sederhana, karena ia melihat adanya pelanggaran hukum terhadap seseorang. Prinsip bahwa hukum berada di atas segalanya menjadi tema dalam film ini. Di hadapan hukum, semua orang pada hakekatnya sama tanpa pengecualian, hukum tidak memandang ras, keyakinan, orientasi seksual atau pandangan politik seseorang. Hal itulah yang membuat saya “tergetar” setiap kali menonton film ini. Selain menampilkan kekuatan “hukum” yang menjadi kebanggaan sebagai nilai-nilai Amerika, film ini juga mengangkat sisi keterbukaan sebagai nilai Amerika yang juga mereka banggakan. Bagaimana seorang Andrew Beckett dengan pasangan gay-nya Miguel (Antonio Banderas) diterima dengan hangat dan mendapat dukungan penuh dari seluruh anggota keluarga Andrew. Ketika Andrew menyampaikan di hadapan keluarganya bagaimana ia akan maju ke pengadilan dan bagaimana hal-hal yang akan dimunculkan di pengadilan akan sangat menyentuh kehidupan pribadinya, Andrew ingin agar keluarganya tidak terganggu dengan hal tersebut. Dan disinilah “cita rasa” Amerika tersebut terasa sangat kuat melalui tiga kutipan dalam adegan tersebut : “I don’t expect any of my kids to sit in the back of the bus. Fight for your rights.”(Andrew’s Mom, Sarah to his son)

“Andy, the way you’ve faced this whole thing, you and Miguel, with so much courage… your mother and I have been so very impressed… I can’t imagine there is anything, that anyone could say, that would make us feel less proud of you.”(Andrew’s Dad, Bud to his son)

“Hey. You’re my kid brother, Andy. That’s the bottom line. I mean, what are those bastards going to say? You’re gay? Shit, I knew that when you were five years old”(Andrew’s big brother Randy, to his younger brother)

Dan yang menjadi golden quote dari film ini adalah yang berikut, diucapkan oleh pengacara Andrew, Joe Miller di hadapan reporter televisi yang menanyakan apakah ia setuju untuk memperlakukan kaum homoseksual secara berbeda :

“Angela, we’re standing in Philadelphia, the City of Brotherly Love, the birthplace of freedom, where our Founding Fathers authored the Declaration of Independence. And I don’t remember that glorious document saying “All straight men are created equal.” I could have sworn it says, “All men are created equal.” That’s why I’m fallin love to this movie!! 

 9.  Pulp Fiction (1994)

Peringkat IMDB : #4

Dari sembilan film di daftar ini, 7 diantaranya (nomor 2 s/d 8) merupakan film yang saya nikmati hampir sama dengan cara saya menikmati sebuah novel. Kekuatan cerita dan akting para pemain yang menjadi “menu utamanya”.Sementara untuk film ini dan juga Forrest Gump, saya menikmatinya benar-benar sebagai sebuah “tontonan”. Teknik penyutradaraan-lah yang memuaskan saya ketika menonton kedua film ini. Kali ini adalah seorang Quentin Tarantino yang menyuguhkan sebuah “tontonan” berkualitas. Tidak ada kekuatan cerita di film ini. Yang unik adalah bagaimana film ini dimulai dengan urutan yang ngaco. Dari bagian ketiga, kemudian loncat ke bagian pertama,kemudian keempat, kelima, keenam, kembali lagi ke bagian kesatu, kedua dan diakhiri dengan bagian ketiga. Tapi justru disinilah keunikannya yang belum saya temui lagi di film lain. Gaya slengean inilah yang membuat saya mengagumi film ini. Sekalipun demikian, walaupun disusun dengan ngaco, tapi film ini tidak justru membingungkan. Anda tetap bisa menikmati film ini dengan santai dan mengikuti ceritanya yang sederhana. Bagian terlucu yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal di film ini adalah ketika Butch (diperankan oleh Bruce Willis) yang merupakan seorang petinju dan Marsellus Wallace (Ving Rhames) seorang negro yang merupakan bos kriminal disekap di gudang bawah tanah oleh dua orang homoseks dan digilir untuk disodomi. Tentu saja bukan soal sodominya yang saya suka!! Melainkan bagaimana cerita yang tadinya serius seketika berubah menjadi konyo; sedemikian rupa. Hal menarik lainnya yang menjadi faktor utama saya menyukai film ini tentunya adalah sang wanita yang ada di cover film di samping. Yeah..I love Uma Thurman!! Salah satu artis paling sexy bagi saya ini turut ambil bagian untuk menjadikan film ini sebagai masterpiece dari Quentin Tarantino. Aksi dance-nya bersama John Travolta masuk sebagai salah satu unforgettable dance scene in movies versi saya.Dan tidak ketinggalan aksi konyol dari Samuel L. Jackson yang menjadi pembunuh bayaran berfilosofi Alkitab!! Satu saja saran saya, bila anda belum pernah menonton film ini, segera saja cari DVD bajakannya, anda akan tetap dimaafkan walaupun membeli DVD bajakan, karena dimana lagi kita bisa beli yang original-nya?Hehehhee….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s