Birbal dan Punggawa Tak Jujur

Punggawa Bondil terkenal licik. Namun tak seorang pun berani melaporkan kelicikannya itu kepada raja. Sebab, sulit sekali mencari buktinya. Pada suatu hari, Punggawa Bondil iseng menawari seorang lelaki miskin 5 koin emas. Asal, lelaki itu mau berendam di kolam kota, semalam suntuk. Karena butuh uang, lelaki miskin itu bersedia. Malam harinya ia mencebur ke kolam kota. Semalaman ia berendam di situ. Dua penjaga mengawasinya dari pinggir kolam. Mereka menjadi saksi bahwa lelaki itu tidak keluar dari kolam semalaman.

Keesokan paginya, barulah lelaki itu keluar dari kolam. Kedua penjaga melapor, tak sedetik pun lelaki miskin ini meninggalkan kolam. Mendengar ini Punggawa Bondil merasa keewa. Ia tak menyangka, lelaki kurus itu bisa bertahan di dinginnya air kolam semalaman.

Punggawa Bondil yang licik itu tak mau kehilangan 5 keping koin emas. Ia lalu mencari akal, mencari-cari kesalahan lelaki itu agar taruhan dibatalkan. Maka ketika lelaki miskin itu datang menagih janji, Punggawa Bondil pun bertanya, “Apakah ada lampu di sekitar kolam itu?”

Lelaki miskin itu menjawab jujur, “Ada, Tuanku. Sebuah lampu teplok, dipakai menerangi jalan. Jaraknya dari kolam kira-kira seratus langkah.”

“Apakah kau memandangi lampu jalanan itu?” lanjut Punggawa Bondil.

“Ya, sesekali,” jawab lelaki miskin.

“Nah, mengaku kan? Kau tahan berada dalam air kolam karena dibantu panas dari lampu jalanan itu. Kau curang! Kau kalah taruhan!” Dengan kasar Punggawa Bondil mengusir lelaki miskin itu.

Lelaki miskin itu merasa ditipu. Api kecil pada lampu jalanan itu samasekali tidak ada pengaruhnya pada dinginnya air kolam. Punggawa Bondil memang hanya mencari alasan agar tidak mengeluarkan uang. Lelaki miskin itu lalu menemui Birbal. Ia adalah pria paling bijaksana di negeri itu. Birbal adalah juga penasehat kepercayaan Kaisar Akbar, penguasa negeri tersebut.

Birbal berjanji, “Besok, perkaramu akan beres.”

Esok harinya, tidak seperti biasanya, Birbal tidak hadir di istana. Ia samasekali tidak memberitahu apa alasannya. Padahal hari itu ia harus menghibur Kaisar Akbar dengan lelucon-lelucon lucunya.

Baginda menjadi gelisah. Ia khawatir jangan-jangan Birbal jatuh sakit. Ia segera mengirim utusan untuk menjenguk Birbal. Tak lama kemudian, utusan Kaisar Akbar kembali ke Istana, “Yang Mulia, Birbal sedang memasak air. Ia akan datang setelah airnya matang,” lapornya.

Baginda menunggu. Dua jam telah berlalu. Birbal belum juga menampakkan batang hidungnya. Tiga jam, empat jam, lima jam… Sampai menjelang sore Birbal belum juga muncul di Istana.

“Birbal memasak air seberapa banyak? Dengan apa? Masa, seharian belum juga matang!” batin Kaisar Akbar.

Karena penasaran, baginda datang sendiri menengok Birbal. Kaisar sangat heran ketika melihat apa yang dilakukan penasehatnya itu. Tampak Birbal kerepotan mengembus api kecil agar nyalanya membesar. Sementara panci yang penuh berisi air, tertopang tingggi di atas tiga galah bambu panjang.

Kaisar Akbar menegurnya, “Hai Birbal, apa kau telah hilang ingatan? Mana mungkin panas api kecil di bawah itu bisa mematangkan air di panci yang berada di pucuk galah bambu? Sampai kiamat sekali pun, airnya tetap saja dingin. Dari siapa kau belajar memasak seperti itu?”

Birbal menjawab, “Yang Mulia, hamba belajar dari Punggawa Bondil. Menurutnya, orang yang berendam di kolam yang dingin bisa merasa hangat jika menerima panas dari lampu teplok di kejauhan. Jadi, kalau hamba memasak begini, pasti air panci di ujung galah itu juga bisa mendidih.” Setelah itu Birbal bercerita tentang taruhan Punggawa Bondil dan si lelaki miskin.

Kaisar Akbar menjadi murka mendengar cerita Birbal. Ia lalu memanggil Punggawa Bondil dan si lelaki miskin. Sekali lagi Kaisar Akbar mendengar penjelasan dari si lelaki miskin. Kini ia tahu persis bagaimana kelicikan Punggawa Bondil.

“Uang lima keping emas itu harus diberikan pada lelaki itu. Dan Punggawa Bondil mulai hari ini diberhentikan dengan tidak hormat,” begitu keputusan Kaisar Akbar.

Oleh : Kadir Wong (Bobo No.3/XXX

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s