Orang Lapangan vs Orang Belakang Meja

Ketika masa kampanye Pemilukada DKI Jakarta yang lalu, salah satu calon gubernur pada saat itu yaitu Joko Widodo, pernah mengatakan bahwa andaikan ia terpilih sebagai gubernur nantinya, maka ia akan menghabiskan sebagian besar waktunya di lapangan dan hanya akan berada di kantor selama satu jam saja setiap harinya. Ketika ia benar-benar terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017, Jokowi langsung membuktikan janjinya tersebut dengan melakukan safari ke setiap sudut kota Jakarta. Mulai dari mengunjungi pemukiman kumuh, pasar-pasar tradisional, terminal bis, taman kota dan yang tempat-tempat pelayanan publik mulai seperti kantor kelurahan dan kantor kecamatan. Mudah ditebak, nada-nada sumbang pun segera bermunculan. Mereka yang sejak semula keki dengan kemenangan Jokowi-Ahok mencibir aksi jalan-jalan Sang Gubernur dengan mengatakan bahwa tindakan turun ke lapangan tersebut tidaklah berguna dan menyerukan agar Jokowi untuk segera bertindak dengan lebih nyata untuk mengurusi permasalahan di Ibukota.

Saya tidak tertarik untuk mengomentari apakah tindakan Jokowi turun ke lapangan adalah langkah yang paling tepat. Atau justru setuju dengan pendapat mereka-mereka yang menganggap bahwa aksi jalan-jalan tersebut sama sekali tidak berguna. Saya lebih tertarik untuk menyoroti tentang perbedaan pandangan yang kemudian menghasilkan istilah Orang Lapangan dan Orang Belakang Meja yang sering saya jumpai dalam kehidupan saya sehari-hari.

Ketika baru lulus kuliah dan sibuk mencari pekerjaan dahulu, saya sering mengikuti psikotest dan wawancara kerja. Saya terpaksa harus melalui masa satu tahun untuk kemudian pada akhirnya diterima bekerja di sebuah perusahaan pembiayaan. Dalam setiap lembar formulir tenaga kerja yang saya isi, hampir selalu ada pertanyaan mengenai apakah saya termasuk orang yang suka bekerja di lapangan atau di dalam ruangan. Soal-soal psikotest pun mengakomodir hal ini dengan menampilkan bentuk soal yang akan menggambarkan diri kita sebagai orang lapangan atau orang belakang meja. Begitu juga dengan proses wawancara, saya sering disuruh untuk memilih salah satu dari dua gambaran di atas tentang diri saya. Saya selalu menjawab bahwa saya adalah orang yang lebih senang bekerja di dalam ruangan atau menjadi orang belakang meja. Dalam bayangan saya saat itu, kalau saya menjawab bahwa saya adalah orang yang termasuk tipe orang lapangan maka saya akan dijadikan marketing atau sales di perusahaan tersebut. Suatu posisi yang cukup “ditakuti” untuk para lulusan-lulusan baru seperti saya.

Saat ini, setelah lima tahun lebih saya berada di dunia kerja, saya tidak lagi menganggap adanya perbedaan antara orang lapangan dengan orang di belakang meja tadi. Saya sudah pernah menjadi orang belakang meja dan juga sudah pernah merasakan bekerja sebagai orang lapangan. Kesimpulan yang saya dapat dari pengalaman saya selama ini adalah bagaimana suatu pekerjaan bisa sedemikian terhambatnya apabila orang-orang yang mengerjakannya lebih sibuk mengurusi status “tempat” mereka bekerja seperti yang telah disebutkan di atas. Dan sementara itu, suatu pekerjaan akan dengan sangat mudah diselesaikan apabila orang-orang yang terlibat justru bisa mengesampingkan perbedaan “tempat” tersebut.

Bapak Ilmu Ekonomi Modern, Adam Smith, pernah mengemukakan suatu teori tentang kerja sama dalam sebuah kelompok sebagai berikut :”The best result comes from everyone in the group doing what’s best for himself.” Suatu teori yang bisa saja menjadi “nenek moyang” dari dikotomi posisi bekerja yang saya sebutkan di awal. Masing-masing orang atau tim, dalam usahanya untuk melakukan yang terbaik justru cenderung jatuh ke dalam perangkap kesombongan pribadi. Orang lapangan akan selalu menganggap dirinya atau kelompoknya sebagai bagian yang memiliki andil paling besar dalam kesuksesan, dan begitu juga sebaliknya dengan orang belakang meja. Tanpa mereka sadari, usaha maksimal yang dilakukan secara terpisah ini justru tidak memberikan efek positif terhadap pencapaian suatu tujuan. Yang ada justru kompetisi tidak sehat yang merusak kebersamaan.

Sewaktu bekerja di perusahaan pembiayaan, saya berfungsi sebagai koordinator tim back office support yang mengurusi soal-soal administratif customer, pemeliharaan asset, serta pengelolaan aliran kas yang ada di kantor cabang. Saat itu saya tidak peduli dengan urusan-urusan marketing yang bertugas mencari customer baru ataupun urusan-urusan collection yang bertugas mengelola penarikan kembali dana pembiayaan yang telah diberikan kepada customer. Buat saya saat itu, yang penting adalah bagaimana fungsi-fungsi kerja yang menjadi tanggung jawab dari tim saya bisa dijalankan dengan baik. Saya hampir-hampir tidak peduli dengan pencapaian penjualan ataupun colectibility yang dicapai oleh rekan-rekan saya satu kantor namun beda divisi itu. Saya melakukan persis seperti apa yang dikatakan oleh Adam Smith di atas. Hasilnya? Kinerja kami sebagai kantor cabang dianggap tidak memuaskan oleh atasan. Dan saya pribadi pun menganggap bahwa apa yang saya capai bersama rekan-rekan satu tim tidak memuaskan.

Saya pun belajar banyak dari pengalaman saat itu. Pelajaran yang kemudian membuat saya berani untuk mengubah “haluan” dari pekerjaan yang sifatnya di belakang meja ke pekerjaan yang bersifat lapangan. Kali ini saya bertugas sabagai marketing officer di salah satu perusahaan pembiayaan (lagi!) yang khusus bergerak di bidang pembiayaan kendaraan roda empat. Sebagai mantan orang belakang meja, saya sudah sangat mengetahui kesalahan atau kekurangan yang sering ditemui dari aplikasi-aplikasi yang diajukan oleh orang lapangan yang pada akirnya bisa menghambat suatu proses pembiayaan terhadap customer (pencairan kredit) ataupun proses pembayaran kepada pihak dealer. Oleh karena itu, saya pun berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyiapkan “materi” yang benar-benar siap pakai terhadap setiap aplikasi saya. Namun kehidupan itu pada dasarnya adalah selalu adil. Kalau sebelumnya saya yang tidak peduli dengan rekan-rekan marketing, kali ini saya lah yang tidak dipedulikan oleh rekan-rekan dari tim Operation. Usaha untuk menampilkan yang terbaik dari diri sendiri telah menenggelamkan usaha bersama yang seharusnya lebih ditonjolkan dalam usaha untuk mencapai tujuan.

Oleh karena itulah, saya sangat setuju apabila teori Adam Smith di atas dikatakan tidak sepenuhnya benar. Adalah seorang John Nash, profesor ilmu matematika dari Universitas Princeton, Amerika Serikat yang merevisi teori dari Adam Smith tersebut. John Nash mengatakan bahwa :”The best result will come, from everyone in the group doing what’s best for himself and the group”. Pencapaian maksimal seseorang tidak akan berguna apabila pencapaian tersebut tidak menjadikan tujuan dari kelompoknya tercapai. Dan inilah yang kemudian menjadikan silang pendapat tentang pekerjaan di belakang meja dan pekerjaan lapangan menjadi sangat sia-sia bagi saya. Dalam rangka tercapainya suatu tujuan maka diperlukan suatu usaha dari orang belakang meja untuk bisa menyempurnakan apa yang telah dilakukan oleh orang lapangan. Demikian juga sebaliknya, setiap usaha yang dilakukan oleh orang lapangan haruslah menjadikan apa yang dikerjakan oleh orang belakang meja menjadi sempurna pula. Dengan pemahaman seperti ini, maka niscaya apa yang menjadi tujuan kelompok akan tercapai.

Depok, 8 November 2012..

*Pengetahuan mengenai teori Adam Smith dan John Nash di atas tidak diperoleh melalui mata kuliah di universitas, melainkan melalui film A Beautiful Mind yang diperankan oleh Russel Crowe..:D

 

 

One thought on “Orang Lapangan vs Orang Belakang Meja”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s