wayang-orang-bharata

Sesekali Nonton Yang Seperti Ini

Sabtu 6 Februari 2010 yang lalu, akhirnya kesampaian juga niat saya untuk nonton langsung pertunjukkan wayang orang. Tepatnya di gedung Wayang Orang Bharata (WOB), Proyek Senen, Jakarta Pusat. Sebelum ini saya cuma pernah dengar ceritanya dari ibu saya saja, tentang bagaimana gedung ini di awal tahun 80-an begitu terkenal, jadwal pertunjukannya padat, serta tiket yang harus selalu booking jauh2 hari. Ibu saya termasuk “maniak” nonton wayang orang dulunya, mungkin hal itu yang menyebabkan saya sejak kecil menyukai wayang orang, mungkin–ini masih mungkin–waktu hamil saya dulu, ibu saya sering nonton wayang orang…:D

Dok: Pribadi

Gedungnya tidak terlalu besar sebenarnya, dan kursi penontonnya pun tidak terlalu tinggi, namun hal tersebut tertutup oleh kepuasan saya menikmati pertunjukkan yang ada…juga suasananya. Di tengah2 pertunjukkan saya sempatkan memesan sepiring ketoprak, untuk melengkapi “romantisme” menonton wayang ala WOB…karena gedungnya tidak terlalu besar, akustiknya pun menjadi cukup bagus, baik suara para pemainnya maupun rombongan gamelan, sinden, dan dalangnya. Pertunjukkan malam itu berjalan selama kurang lebih 3 jam. Dan yang menarik adalah, kebiasaan untuk melempar “hadiah” berupa rokok ke tengah2 panggung masih dipelihara. Waktu “pelemparan” biasanya pada saat bagian para Punakawan keluar. Dan biasanya pula, di bungkus hadiah tadi, ada semacam “request lagu” atau bahkan “kirim-kirim salam” dari sang pemberi hadiah..hehehee… Buat saya, dengan kebangkitan kembali WOB, menandakan bahwa kesenian Indonesia (Jawa khususnya dalm hal ini) masih bisa “sedikit” mengambil bagian di tengah2 globalisasi kebudayaan saat ini. Malam itu pun saya masih melihat ada beberapa orang usia muda yang ikut menonton selain saya dan 2 adik saya. Tepat di deret depan kursi saya, ada 2 gadis yang kemungkinan besar masih SMA, datang dengan kedua orang tuanya. Mereka terlihat setia duduk di tempatnya sampai pertunjukkan berakhir, walaupun pada akhirnya saya ketahui ternyata mereka berdua tertidur…entah sejak kapan…:D Saya menulis pengalaman ini bukan hanya sekedar ingin memberitahukan apa yang saya rasakan malam itu, karena saya pikir, segala “sensasi” yang saya dapatkan dari tari2an, gerakan2 para pemain (terutama pemain Dursasana yang tidak bisa men-diamkan anggota tubuhnya sepanjang kemunculan di panggung), tetabuhan gamelan yang terkadang mengagetkan karena posisinya yang dekat sekali, serta celetukan2 lucu yang muncul (mayoritas saya tidak mengerti secara langsung, melainkan lewat terjemahan dari ibu saya terlebih dahulu..:D) tidak bisa saya gambarkan dengan baik, karena semua itu bercampur dengan kenangan2 masa kecil saya ketika Wayang Orang masih sering ditayangkan di TVRI…ketika masanya TVRI hanya menjadi satu2nya pilihan waktu itu… Saya menulis ini juga sekaligus untuk merekomendasikan tempat tersebut untuk dikunjungi. Harga tiketnya tidak mahal, kelas Utama hanya seharga 50.000, kelas I 40.000 dan kelas balkon 30.000.

Dok: Pribadi

Kalau mau menonton tanpa terganggu, sebaiknya pilih kelas balkon, sebab di bagian bawah, lumyan “ramai” oleh anak2 kecil yang sesekali berlarian, atau melakukan adegan “meluncur”..mungkin ini adalah anak2 yang orang tuanya sedang beraksi di atas panggung…hehehe..bagi saya sih tidak ada masalah, karena sekali lagi…inilah “romantisme” ala WOB. Ditambah sepiring ketoprak dan segelas teh manis hangat, saya jamin anda akan mendapatkan suatu pengalaman baru dalam menikmati pertunjukkan…di samping hanya menikmati sajian dari negri2 bule yang ada di gedung2 bioskop mewah milik korporasi LoroSiji..saya punya suatu utopia, suatu saat nanti yang keluar dari Gedung Pertunjukkan Wayang Orang Bharata di malam minggu pukul 23.30 ketika pertunjukkan selesai, bukan hanya dipenuhi pensiunan2 tua dengan topi pet dan tongkat, ibu2 tua yang saling berpegangan tangan jalan ke mobil, si mbah yang jalan dituntun cucunya yang masih belum sepenuhnya sadar dari bangun tidurnya…tapi yang keluar malam itu juga banyak anak2 muda, baik yang rombongan maupun yang berduaan dalam kasmaran..dan semuanya keluar dengan gambaran puas di wajah mereka..puas atas pertunjukkan dan suasana yang tersedia di dalam….

Dok: Pribadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s