Calon menteri

Hadely Hasibuan, S.H : Tokoh Terlupakan di Masa Tritura 1966

Dalam sejarah yang tertulis di seputar masa Revolusi yang dimulai sejak peristiwa G30S PKI tahun 1965, pasti banyak yang tidak mengetahui tentang kisah seorang Hadely Hasibuan. Seorang pengacara yang juga pemimpin redaksi Majalah Varia kala itu. Kisah tentang Hasibuan hanyalah kisah singkat yang sempat memberi warna pada situasi politik di masa itu yang sedang diramaikan oleh demonstrasi mahasiswa menentang pemerintahan Presiden Soekarno, yang sejak peristiwa 30 September telah kehilangan legitimasinya di mata sebagian rakyat Indonesia.

Diawali oleh demonstrasi mahasiswa pada tanggal 10 Januari 1966 yang kemudian menghasilkan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) yang berisikan :

  1. Bubarkan PKI
  2. Rombak Kabinet Dwikora
  3. Turunkan Harga

Tuntutan yang ke tiga, yaitu Turunkan Harga, adalah gambaran mengenai kondisi perekonomian bangsa Indonesia pada saat itu. Dimana tingkat inflasi sedang berada pada tingkat yang tertinggi sejak bangsa ini merdeka. Kebutuhan pokok sulit didapat yang menyebabkan rakyat harus terpaksa antri untuuk sekedar membeli beras, gula, garam, minyak kelapa atau minyak tanah. Menjawab tuntutan mahasiswa tersebut, Presiden Soekarno mengeluarkan tantangan bagi siapa saja yang mampu menurunkan harga. Presiden Soekarno menjawab langsung tuntutan tersebut dalam pidato di depan sidang Kabinet Dwikora.

“Siapa yang sanggup menurunkan harga yang dihebohkan kini, ia akan segera diangkat sebagai menteri. Tapi, jikalau keadaan itu bertambah buruk, ia akan saya tembak mati. Tidak peduli, apakah ia dari Angkatan Bersenjata, Organisasi Politik, Organisasi Massa, kalangan mahasiswa atau wartawan. Kalau ia sanggup menurunkan harga dalam 3 bulan, ia akan segera saya lantik sebagai menteri.

“Jika dalam tempo 3 bulan mulai dari sekarang yakni pada tanggal 15 April 1966, keadaan ekonomi bertambah buruk, ia akan saya suruh tembak mati. Apabila keadaan itu tetap saja seperti yang kita hadapi kini, ia akan saya masukkan ke dalam penjara selama 10 tahun.”

Tantangan dari Bung Karno tersebut sempat membuat keadaan tidak menentu dan menurunkan semangat juang para mahasiswa dalam melakukan aksi demonstrasi. Di tengah-tengah situasi seperti itulah Hadely Hasibuan, S.H muncul menjawab tantangan Bung Karno. Ia bersedia mencalonkan diri sebagai Menteri Penurunan Harga.  Sikap dan keberaniannya itu memberikan semacam injeksi perjuangan kepada generasi muda. Semangat perjuangan kembali menyala-nyala. Dan Hadely Hasibuan menjadi terkenal atas keberaniannya itu. Ia dielu-elukan mahasiswa, dan bahkan ketika ia datang untuk berorasi di kampus almamaternya, Universitas Padjadjaran Bandung, sebuah nyanyian diciptakan oleh mahasiswa di Bandung untuk dirinya, yakni:

“Dalam Berita Yudha tersebut kisah, Hasibuan namanya menghadap raja, Tiga bulan lamanya turunkan harga, Jika tidak berhasil penggal kepala, Hasibuan—SH, Hasibuan—SH”

Nama Hadely Hasibuan segera muncul di surat-surat kabar baik dalam negeri maupun luar negeri. Pernyataan-pernyataan dan gambar dirinya memenuhi isi surat kabar hampir setiap harinya. Pihak Istana pada saat itupun tidak tinggal diam dalam merespon sikap yang telah ditunjukkan oleh Hasibuan. Undangan kepada Hasibuan pun datang dari Istana, dimana Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena yang menemui Hasibuan untuk membicarakan soal niatnya yang bersedia menjadi Menteri Penurunan Harga. Di dalam pertemuan tersebut, Dr. Leimena menyarankan kepada Hasibuan agar dirinya segera mengurungkan niatnya dan meminta maaf kepada Presiden Soekarno. Hasibuan hanya membawa konsep tertulis sepanjang 3 halaman folio yang diketik dengan 2 spasi di dalam pertemuan tersebut. Konsep yang ditulis dalam waktu yang singkat yang sempat ditunjukkan kepada mantan Wakil Presiden Moh. Hatta.

Tentu saja Hasibuan tidak pernah benar-benar dilantik sebagai menteri. Yang terjadi kemudian adalah Hasibuan menjadi tokoh yang turut menyalakan api perjuangan bagi gerakan mahasiswa, bukan hanya di Jakarta akan tetapi juga di kota-kota lainnya. Hasibuan tidak sempat menjadi menteri, karena pada bulan Maret 1966, satu bulan setelah pertemuannya dengan Dr. J. Leimena, Presiden Soekarno telah “menyerahkan” kekuasaannya kepada Jenderal Soeharto lewat sebuah surat perintah yang di kemudian hari dikenal dengan nama Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Layaknya sebuah film koboi, Hasibuan beraksi sebagai jagoan yang datang ke sebuah wilayah yang sedang bermasalah, dan kemudian begitu keadaan telah tenang ia kemudian pergi menghilang. Ketika pemerintahan Orde Lama telah benar-benar jatuh, dan Soeharto telah resmi menjadi Presiden, Hasibuan justru harus meringkuk di dalam penjara karena tuduhan terlibat PKI. Ironis, bagi seorang anak bangsa yang memiliki keberanian begitu besar di masa-masa sulit bukannya meraih penghargaan malah justru dimasukkan ke dalam penjara. Demikianlah, sejak itu nama Hasibuan segera meredup dalam kancah sejarah bangsa ini dan tidak pernah sekalipun disebut-sebut di kemudian hari.

*Sumber : Pengalaman Sebagai Calon Menteri Penurunan Harga (Hadely Hasibuan, S.H, Penerbit Yayasan Pratama Sari, Kartini Group, Jakarta, 1985)

**Buku tersebut akan segera diketik ulang dan dimunculkan dalam blog saya sebagai bahan pelengkap pustaka sejarah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s