Wabah, Nyai, dan Cina Muntilan

Pada tahun 1918, setelah Perang Dunia berakhir, terjadi wabah penyakit influensa di seluruh dunia. Wabah yang paling hebat berlangsung kira-kira tiga minggu. Tetapi keseluruhannya baru berakhir kira-kira dua bulan dan telah menghantui kehidupan. Ratusan orang sakit, puluhan orang meninggal dunia. Pada suatu saat pedagang kain kafan menutup toko, karena takut serbuan pembeli kain guna pembungkus mayat. Polisi terpaksa membuka dan mengawasi penjualannya. Untung sepanjang wabah tersebut, saya tidak pernah terserang; saban hari selama dua atau tiga minggu, saya tetap sekolah. Sekolah kosong, Cuma ada beberapa puluh murid, kadang-kadang samasekali tidak ada guru yang datang. Oleh karena nenek saya dan ibu-ibu cilik pada sakit pula, maka mereka diboyong ke rumah Bapak yang pada saat itu telah menjadi Wedono di mBandongan, sebelah barat Kali Progo, di kaki Gunung Sumbing. Saban pagi, pukul enam, saya berangkat jalan kaki dari mBandongan ke Magelang,  jalan tiga setengah kilometer. Pukul sembilan atau setengah sepuluh pulang lagi, oleh karena sekolah kosong. Oleh karena lamanya penyakit itu menghantui Kota Magelang, maka saya dan adik saya pindah dari rumah nenek ke rumah Eyang Mantri Guru Jawa dari nJambom ke mBayeman. Saya tinggal di situ sampai tahun 1923, lalu pindah sekolah AMS bagian B di Yogyakarta.

Akibat wabah influensa itu, timbul macam-macam takhayul yang meluas di daerah Kedu, antara lain di mBandongan, Magelang, Muntilan dan sekitarnya. Pada suatu sore hari, sekitar pukul empat, tetangga kami meninggal dunia. Langsung dimandikan, disembahyangi dan disiapkan supaya esok hari bisa dikubur sekitar pukul enam pagi. Kalau lebih lambat, bisa keduluan penguburan orang lain, dan bisa tunggu sampai sore hari, bahkan ada yang sampai pukul sepuluh malam. Demikian banyak orang yang meninggal dunia pada masa tersebut. Setelah siap untuk dikuburkan, semua orang tidur, tinggal satu-dua yang menunggu jenazah.

Sekitar pukul tiga pagi, kami di kawedanan terbangun semuanya, juga Bapak-Ibu dan penjaga. Di rumah yang keseripahan, orang-orang pada berteriak minta tolong atau menangis. Kami semua menuju ke rumah tersebut. Maka kami baru mengerti apa yang terjadi.

Mayat yang telah terbungkus, berguling-guling dan bergerak terus menerus, dan tidak ada satu orang pun yang berani mendekat. Maka Bapaklah yang mulai memotong tali-tali pembungkus. Kemudian, setelah semua bungkus dilepas, maka “mayat” itu duduk dan kemudian minta minum. Satu-dua hari kemudian, mayat itu baru bisa diajak bicara pelan-pelan. Tersusunlah cerita sebagai berikut: Dia diambil oleh seorang lelaki, diajak ke Samudera Selatan, menghadap Nyai Loro Kidul. Kemudian ia diperintah menjaga api. Nyai Loro Kidul sedang mantu. Oleh karena kepanasan, ia keluar dari dapur, ngisis. Tapi ia kepergok, dimarahi, tidak bisa dipakai, kemudian dikirim pulang…

***

Cerita lain. Di Semarang ada seorang kaya-raya, tetapi sangat terkenal pelit. Oleh karena terserang penyakit, ,maka meninggal dunia. Pada waktu mengubur, tangan kanannya terlepas. Tangan tadi terbang ke mana-mana. Kalau ada anak kecil, dicekik sampai mati, menjadi temannya. Kalau tangan tadi dikasih uang sak endil (setengah sen), maka ia tidak mengganggu. Akibatnya semua ibu-bapak berusaha mencari uang endilan. Satu endil dibeli sampai sepuluh kali harganya. Kebanyakan anak-anak mempunyai uang endilan di kantung. Berita itu bertahan selama kira-kira tiga minggu, tetapi tiba-tiba berakhir. Seorang agen polisi bisa menemukan, bahwa yang menjual uang endilan  selalu orang Cina. Penjual-penjual tadi ditangkapi, maka ceritanya berakhir. Ceritanya berakhir, tetapi ada sambungan lain.

Kirs-kira dua bulan kemudian, orang Cina Muntilan mendadak mengadakan selamatan selama satu minggu. Semua orang yang datang bertamu disuguhi makan tanpa bayar. Maka berduyun-duyunlah dengan kereta api NIS…teng-teng-teng… orang menuju Muntilan untuk makan lezat. Apa sebabnya diadakan selamatan tadi?

Di Muntilan ada kuburan khusus untuk orang Cina. Pada semua nisan ada tulisan “Kabeh Cina Muntilan bakal mati.” Oleh karena itu mereka serentak mengadakan selamatan. Orang Jawa Magelang ketawa kepingkel-kepingkel, sambil nyeletuk,  “Kabeh wong ya bakal mati. Ora ano uwong sing terus urip wae”  (Semua orang pasti akan mati…). Rupa-rupanya ada orang Jawa jahil. Tahu bahwa orang Jawa ditipu dengan cerita endilan, maka orang jahil tadi mengadakan pembalasan, dan menulisi semua nisan di kuburan Cina Muntilan. That was the racial war in olden times  (Itulah cerita perang rasial di zaman kuno).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s